Komunikasi? Kok di Institut Pertanian ?

Halo, semua!

setelah lama terjebak dalam draft, akhirnya saya mempublikasikan tulisan ini. sebelumnya, ini hanya ‘pandangan’ saya sebagai lulusan dari departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB. pendapat orang akan berbeda-beda 🙂

IMG_0928.JPGSaya Wulan Mustika, (mantan) mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Institut Pertanian Bogor angkatan 49. angka 49 berarti IPB telah berusia 49 tahun ketika saya masuk tahun 2012. dulu saya masuk lewat ujian SNMPTN Tulis (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, sekarang dikenal dengan SBMPTN atau dulu SPMB). selalu saya tekankan, masuk universitas terbaik ke-3 se-Indonesia versi DIKTI (th. 2016) ini adalah KEAJAIBAN. bagi saya lulusan SMK teknik komputer dan jaringan yang tidak akrab dengan biologi, masuk PTN melalui SNMPTN Tulis IPA itu sangat sulit.

Kenapa Komunikasi? di IPB?

sejujurnya, KPM adalah pilihan ke-dua saya setelah prodi Ilmu Komputer. tapi, garis takdir membuat saya lulus di jurusan KPM. sederhana alasannya: saya ingin kuliah dekat dengan orang tua di Jakarta dan murah. biaya kuliah dan hidup di IPB memang terbilang murah, sehingga saya sangat senang bisa tinggal di Dramaga, Bogor. dengan harga kost sekitar 5jt-6jt pertahun sudah berisi kasur, lemari dan meja belajar yang cukup untuk saya tinggali. biaya makan terjangkau, karena IPB Dramaga jauh dari keramaian.

Belajar apa di sana?

ya banyak, ilmu komunikasi tentunya. tapi selain itu juga sosiologi pedesaan, ilmu kependudukan, psikologi sosial, lembaga dan kepemimpinan, politik, ekologi, serta pertanian. saya harus mengambil 5 mata kuliah tambahan (minor) dari jurusan lain, dan saya memilih minor agronomi dan hortikultura. berbeda dengan ilmu komunikasi murni, kami banyak belajar mengasah kepekaan terhadap kondisi sosial di pedesaan sehingga penelitian yang kami lakukan lebih banyak di daerah pedesaan, baik pegunungan maupun pesisir.

menyenangkan, sekaligus melelahkan. tiap akhir semester kami pasti melakukan kuliah di lapang (biasa KPM sebut turun lapang) ke desa-desa sekitar kampus. menginap beberapa hari dan melakukan observasi. bisa tentang konflik, kepemimpinan, ekonomi dan berbagai aspek sosial lainnya.

jika kamu masih sekolah, tolong lupakan bayangan kuliah seperti di FTV. saya pribadi kadang kewalahan dengan banyaknya tugas, paper, kuis, resume dan project kelompok. UTS dan UAS yang satu soal bisa menghabiskan tinta satu pulpen, atau materi pra responsi yang berpuluh-puluh lembar, kadang berbahasa inggris. menonton film di bioskop, kemudian dianalisis. sudahlah, menyenangkan jadi anak KPM. sungguh…

tidak jarang, saya melihat rekan-rekan sejurusan saya sudah bolak-balik luar negeri untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan ilmiah, mereka bukan hanya pintar, tapi luwes dalam kehidupan organisasi dan akademik. tidak jarang pula, jurusan kami yang sebagian besar perempuan cantik, dicibir oleh mahasiswa fakultas lain yang menganggap kami jago dandan tapi tak berotak atau sekedar gaya-gayaan setiap ke kampus. saya sih, senyum saja. mereka yang ambil mata kuliah kita banyak kok yang dapat nilai C. hehehe. bagi kalian yang masih berpikiran seperti itu, kita sudah punya porsi keilmuan masing-masing ya. saya juga kalau ambil mata kuliah departemenmu pasti nilainya jelek hehe

seperti mahasiswa komunikasi pada umumnya, kami suka sekali berdiskusi. contohnya saya dan teman-teman satu organisasi yang bisa menghabiskan banyak waktu untuk membahas banyak hal. dari mulai kebijakan kampus, pro dan kontra pemilihan presiden, karakter teman-teman yang lain, kesehatan, fenomena hits di kampus, musik, bahkan mengupas masalah-masalah pribadi. sekarang saya tahu, hal itu membuat kami melatih diri untuk lebih peduli terhadap kondisi sekitar. jadi sebenarnya kami sama seperti komunikasi lain, tapi tetap bersentuhan dengan dunia pertanian

saya yakin, di manapun kita belajar tanpa memandang jurusan apa, universitas mana, IPK berapa, dulu pernah berprestasi sebanyak apa, kita tetap menjadi ‘the agent of change’ untuk Indonesia. jadi, tetap semangat mengukir prestasi 🙂

 

salam,

Wulan Mustika

Advertisements

Apakah Kekuatan Sosial Bisa Tumbuh di Perkotaan?

Kota, membayangkannya saja sudah dapat tertebak hal identik tentangnya. Sebuah lingkungan besar dengan hiruk pikuk tak kunjung usai. Sepertinya anak kecil pun sudah dapat menggambarkan betapa sibuknya daerah perkotaan. Polusi dari kendaraan dan industri yang menjadi ciri khasnya, tak pernah sedetik pun lepas dari tubuh gempal kota. Ya, dalam benak saya Kota itu gempal. Kota itu besar. Tidak hanya luasnya, namun juga heterogenitas warganya. Bermacam-macam masyarakatnya yang memberikan banyak perbedaan dalam kehidupan kota.

Sedangkan desa, sering dikaitkan dengan keindahan dan kehidupan guyubnya. Asri dan nyaman, gotong royong yang menjadi ciri khasnya. Ketika warga kota bergumul dengan hiruk pikuknya. Warga desa menjalani kehidupannya dengan kelengangan. Dari segi waktu, pekerjaan, kehidupan sosial, keagamaan dan politik. Mereka nyaris lebih bahagia dibanding warga kota dengan berbagai kesibukannya.

Masyarakat kota atau juga sering disebut urban community kebanyakan berciri individualis atau hampir tidak bergantung pada orang lain. Maka dari itu tidak jarang dijumpai dalam keluarga pun terdapat paham yang berbeda akibat perbedaan kepentingan agama, politik, dan sebagainya. Dengan kehidupan keagamaan yang tidak sama dengan kehidupan pedesaan, terkadang warga perkotaan memiliki jalan pikiran yang lebih rasional. Selain itu, materi merupakan salah satu faktor yang wajib menjadi kepentingan utama dalam kehidupannya.

Namun, pembagian tugas dan ketelitian serta ketepatan waktu yang diusung masyarakat perkotaan menyebabkan masyarakat perkotaan lebih unggul dibandingkan masyarakat pedesaan. Keterbukaan masyarakat perkotaan kepada pengaruh dari luar pun mengakibatkan perubahan sosial lebih rentan terjadi d kota. Ciri-ciri ini lah yang menjadi pembeda kehidupan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Perbedaan yang jelas terlihat adalah masyarakat perkotaan tidak seperti masyarakat desa yang berhubungan kuat dengan alam. Mereka lebih mendahulukan kepentingan pribadinya, sedangkan masyarakat desa lebih kuat menyatu dengan alam. Selain itu komunitas pedesaan terhitung lebih kecil dari komunitas perkotaan. Kota lebih padat penduduknya, sedangkan desa tidak.

Toleransi sosial juga rendah, dikarenakan kesibukan masyarakat kota. Jarak sosial meskipun terasa dekat secara fisik (bisa saja kita melihat ribuan warga kota berdesakkan dalam commuter line), namun mereka tidak mengenal satu sama lain. Bahkan dengan tetangganya sendiri. Sungguh sangat berbeda dengan keadaan masyarakat desa yang kedekatan jarak sosial dan toleransinya tinggi. Yang bisa saja berkumpul dalam sebuah hajatan tetangganya untuk membantu. Sedangkan mereka tak harus selalu berdekatan seperti yang dialami warga kota.

Kehidupan modern telah merangkak masuk kedalam tubuh kota. Budaya Barat, hiruk-pikuk khas kota-kota besar di negara maju tela menggerus kehidupan tradisional yang masyarakat kenal. Maka, dapat terhitung jumlahnya warga yang  dapat memberikan toleransi tinggi terhadap masyarakat yang lain.

Membahas tentang kekuatan sosial, kekuatan sosial sendiri adalah akses kepada sumberdaya yang meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan kebutuhan atau hal-hal yang mempengaruhinya untuk menuju kepada tujuan yang aman, produktif dan memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam praktikum MK. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan pada tanggal 25 Februari 2015 lalu, cuplikan film mengenai kehidupan masyarakat petani di pedesaan. Kekuatan sosial nampak terlihat di sana. Karena mereka memiliki satu tujuan yang sama untuk memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan gabah kering. Mereka dapat membentuk sebuah koperasi yang bertujuan untuk menyimpan gabah yang berguna untuk kelangsungan hidup masyarakat ketika masa paceklik menyerang. Mereka dapat menggerakan roda ekonomi berlandaskan kekuatan sosial yang mereka miliki. Sehingga pada akhirnya mereka dapat hidup mandiri tanpa khawatir kekurangan pangan.

Kekuatan sosial dalam pembentukan organisasi di pedesaan ini akan sangat mudah terbentuk menurut saya. Mengapa? karena warga desa memiliki kelekatan dan toleransi sosial yang tinggi. Warga desa akan mudah membentuk kekuatan sosial dalam kelompok, karena mereka terbiasa membuat keputusan atau melakukan sebuah kegiatan dengan berkelompok. Mereka tidak memperdulikan apakah kegiatan bersama yang mereka lakukan akan memberikan efek terhadap kehidupannya atau bahkan tidak sama sekali.

Hal inilah yang tidak dapat dijumpai di kehidupan masyarakat kota. Seperti yang sudah dipaparkan, masyarakat kota yang sudah sangat matrealistis akan banyak mempertimbangkan berbagai kegiatan yang ia lakukan. Akankah berdampak pada kehidupannya atau tidak. Dapat disimpulkan bahwa menurut saya kekuatan sosial akan sukar terbentuk. Karena kehidupan individualis yang diusung masyarakat kota lebih menyulitkan kehidupan berkelompok seperti yang dilakukan masyarakat desa.

Hampir tidak ada kekuatan sosial yang kuat terbentuk di perkotaan jika kehidupan individualis melekat kuat di lingkungannya. Kekuatan sosial akan terbentuk jika masyarakat secara intensif membangun hubungan dan komunikasi diantara mereka. Masyarakat desa dapat dengan mudah membentuknya karena kebiasaan, sedangkan kebiasaan masyarakat kota sudah terbentuk berbeda dengan masyarakat desa. Kesulitan-kesulitan itu akan ditemui. kota, tempat luas nan besar itu akan tetap jadi kota dengan heterogenitas dan individualis yang menjadi cirinya.

Tulisan ini seolah menyudutkan kehidupan kota, tapi saya tak lantas mendukung desa dan meminggirkan kepentingan kehadiran perkotaan. Kota dan desa tetap hidup berdampingan. Tetap memutar rodanya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya. Seperti desa yang tidak akan lekang oleh waktu, kehidupan tradisionalnya merupakan ciri khas dari Indonesia yang mencerminkan budaya bangsanya.

tak usah repot-repot

ah, kau tak perlu sesulit itu mencintai gadis biasa saja sepertiku.

yang sama sekali belum sempurna.

aku payah dan tak bisa diandalkan.

tidak bisa kau banggakan. sekedarnya, sungguh seadanya.

aku pantas untuk menerima segala kekuranganmu.

agar kau tak perlu susah payah menutupi kekesalanmu menghadapi kekuranganku.

ah aku berlebihan ya.

menulis ini yang jelas-jelas tidak ada yang peduli.

setidaknya tulus-lah yang selalu membuatku tersenyum kecil.

saat aku teringat betapa ku dikecewakan.

olehmu.

setidaknya kita pernah saling menerima. sebelum saling menolak.

jangan cintai aku apa adanya, cintai sebisanya.

tak usah repot-repot

A Blessed Family : Napak Tilas Bandung

Bandung, Februari 2015

” Pah, ajakin Teteh jalan-jalan dong. mau naik angkot ke alun-alun Bandung.” eh ternyata malah dijawab dengan terkekeh oleh Papah yang habis mandi. Katanya, angkutan kota di Bandung harganya sudah tidak murah. kalau kita pergi berempat naik angkutan kota, harganya sebanding dengan naik kendaraan pribadi. ya sudah, yang penting ada cerita berempat akhirnya kita pergi selepas dzuhur.

“ya Allah, Bandung berubah banget ya?” kataku sepanjang perjalanan. katanya semenjak walikota-nya Bandung diganti, kota Bandung senyumnya lebih indah. bagaimana tidak, tamannya jadi banyak. sampahnya juga berkurang banyak sekali. rasanya Bandung semakin cantik, pantas saja mojang Bandung cantik-cantik. mungkin tidak ada hubungannya, tapi kota kembang-ku indah sekali.

sempat mampir ke Alun-alun Bandung, yang dahulu padat sekali. banyak pedagang kaki lima-nya. sekarang lengang sekali. sampai kita bisa dengan bebas tidur di taman depan masid raya kota Bandung. ini oleh-olehnya buatmu 🙂IMG_1140

16 Januari, dari 1994 hingga 2015

agar dunia tahu, kalau di belahan bumi ini masih ada anak yang tak bisa lepas dari genggaman orang tuanya. yang lebih nyaman jalan berempat dibanding bersama teman-teman sebayanya. masih ada ayah yang memperlakukan dua anaknya selayaknya bayi mungil sampai sekarang. masih ada ibu yang mencium pipi anak laki-laki remajanya di tengah keramaian. masih selalu ada cinta disela kesederhanaan. masih ada canda, masih lekat peluk. ah, ya Tuhan. terimakasih telah memberiku tempat nyaman sejak dalam rahim hingga sekarang. IMG_1110[1]

Tentang Kesempatan

ketahuilah, ada jutaan perasaan yang sulit dibahasakan

seperti kesakitan yang melewati batas normal, atau kesenangan yang meluap kesana kemari.

atau kesempatan yang tak datang dua kali. ya, tak dapat kubahasakan pengalamannya.

lepas tertawa, bebas berteriak, riuh rendah celotehan, sedu sedan tangisan bersama utusan-utusan Tuhan pembawa kebahagiaan, di semua perasaan yang tak bisa kubahasakan.

seperti hidup dan mengenalmu, sahabatku. atau mungkin kau hanya temanku. sekedar orang yang lalau lalang tanpa arti sore ini, siapapun yang matanya pernah beradu denganku.

betapa Tuhan maha baik,

membuat hidup ini sungguh teratur, tanpa cela. tanpa perlu kita protes lagi alurnya.

seandainya pertemuan tak berakhir perpisahan, mungkin bahagianya takkan pernah bisa ku bahasakan.

namun setidaknya ada satu kesempatan,

dipertemukan Tuhan dengan berbagai cara.

mungkin keinginan Tuhan

“Kangen yang paling ngangenin itu, Ketika dua orang tidak saling sms, bbm, atau telepon.

namun mereka saling mendoakan”  – Sudjiwo Tedjo, Index 2014

entah, kenapa kata-kata itu menyihirku seperti sedikit menyemangati bahwa Tuhan selalu ingin kita bertemu.

paling tidak nama kita-lah yang bersua di hadapannya. dalam harap dan doa. setiap hari, hampir setiap hari kusematkan namamu diantara nama-nama yang kucintai.

mungkin kamu juga begitu, semoga.

karena doa-lah yang ternyata membentuk kelunakan menjadi sebongkah ketegaran. kemudian semua kesedihan mengkristal menjadi sebuah harap kebahagiaan. salahkah kalau aku bahagia ketika terus berdoa untukmu?

mungkin, kenginan Tuhan-lah yang menginginkan setiap tatapan tak sengaja, setiap usaha membahagiakan satu sama lain, setiap hujan yang menahan kita untuk terus habiskan waktu berdua, setiap mimpi yang dapat kita bahas setiap paginya, yang tak pernah habis hingga malam hampir usai.

kukira bukan sekedar mungkin, tapi Tuhan-lah yang membuat segalanya tepat pada tempat seharusnya. sehingga aku rasa tak apa jika Tuhan meempatkan setumpuk Rindu padaku, tapi tidak padamu. mungkin keinginan Tuhan untuk terus mendengar namamu dalam setiap doaku. sehingga setidaknya Tuhan-lah yang paling tahu kenapa aku tetap seperti ini.

maka teruslah hidup sehebat itu, aku akan selalu minta Tuhan menjagamu. setidaknya cukup lewat doa..

Sanggar Juara itu apa, teh ??

pertanyaan itu berulang-ulang terdengar setiap aku bilang ” aku nggak pulang minggu ini mau nyanggar” atau “iya lagi aktif di sanggar juara aja”

sebagian dari kalian pasti sudah tahu, yang belum bisa intip blognya sanggar juara . kadang geli sendiri bisa berada di lingkungan yang luar biasa keren! apalagi desa Pabuaran. monggo cari di google map, atau bayangkan ceritaku saja. Pabuaran itu kadang seperti antah berantah, sebagai anak ‘kota’ membayangkan jalan terjal tanpa aspal dan nyaris tidak ada kendaraan umum menuju titik keramaian atau sekedar tukang photocopy yang  jaraknya berkilo-kilo meter saja aku sudah tidak sanggup, tapi ini kejadian!

untungnya aku berdarah sunda tulen, nggak begitu kaget sama daerahnya yang banyak kebun apalagi rumah-rumahnya. warganya senang berkumpul atau sekedar ngobrol di teras rumah dengan logat sunda yang jelas jauh berbeda dengan logat sunda di bandung.

perjalanan satu jam dengan angkot sewaan dari depan kampus di daerah Dramaga, Kabupaten Bogor seperti terbayar lunas kalau lihat adik-adik Sanggar Juara yang rela menunggu siang terik di satu ruangan yang multifungsi, jadi paud, tpa, dll sambil teriak ” hai kaaaaak”. yang tadinya panas, lemas, haus, langsung disergap semangat seketika.

sekarang setiap orang yang bertanya, Sanggar Juara itu apa, teh?

aku jawab : Rumah ke-4 setelah Jakarta, Bandung, dan Kost’an 🙂

Live Like You’re Dying – Lenka

” live like you’re dying, and never stop trying. it’s all up to you to do whatever you choose ”

sejak masih berseragam, entah kenapa lagu ini yang selalu nemenin belajar.  aku sih nggak tau awalnya gimana, karena tiba-tiba lagu ini ada di playlist. tapi setiap denger, merem, mikirin liriknya, ikut nyanyi, dan hasilnya banyak banget.

kadang bisa dapet banyak banget inspirasi, waktu pengen jadi penyanyi jadi bikin banyak lirik, dan waktu pengen kuliah hasilnya bikin puluhan tulisan di kamar isinya ” ILKOM IPB” , bahkan waktu diperjalanan waktu mau test SNMPTN sepanjang perjalanan di kuping nempel headset yang lagunya itulagi-itulagi berulang-ulang.

meskipun hasilnya agak meleset sedikit, tersesat di “SKPM IPB” tapi nyatanya kadang aku punya semangat dari nada-nada ballad, karena ballad nggak selalu galau

sampai sekarang, waktu terus jalan. udah mau ke semester 3 dan lagu Lenka satu ini masih terus diputar, seperti hidup kita.