Opini : Ojek Online, Dilema Difusi dan Adaptasi Inovasi. Butuh sih, tapi…..

gojek-vs-ojek

sebelum kita mulai, mari membaca :

http://news.liputan6.com/read/2893916/cegah-bentrok-ojek-online-meluas-2-kementerian-lakukan-hal-ini

dalam jangka kurang lebih satu bulan terakhir ini, ratusan (mungkin lebih) supir angkot  di Bandung melakukan aksi mogok sampai ada kericuhan dan perusakkan mobil yang diduga taksi online, di Tanggerang supir angkot ‘seruduk’ pengemudi ojek online, kemarin  di Bogor kota sejuta angkot mendadak nggak ada angkot karena semua supir angkot melakukan aksi yang sama. semua grup sosial media heboh, post foto-foto yang bisa jadi juga hoax. terlepas fotonya bener apa enggak, yang penting post dulu biar pada waspada.

memang beberapa tahun ke belakang, ojek online berbasis aplikasi ini mulai menjamur di Indonesia. perusahaan start-up mulai melihat peluang ini sebagai calon inovasi besar di Indonesia.  bisa klik artikel dari techinasia.com ini untuk mengetahui sejarah ojek online lebih lengkap. sebenarnya, GrabTaxi dan Uber sudah ada duluan di beberapa negara, Go-Jek sebagai pelopor ojek motor online langsung melejit sukses mengenalkan aplikasi ini di Indonesia. selain membantu pengguna ojek, anggota pengemudi Go-Jek juga dikabarkan lebih sejahtera. mungkin inilah salah satu contoh Difusi Inovasi yang pernah saya pelajari selama kuliah dulu.

Difusi inovasi merupakan teori yang dikenalkan oleh Everett Rogers pada tahun 1964 dalam bukunya yang berjudul Diffusions of Innovations. Rogers menjelaskan bahwa Difusi adalah sebuah proses dimana sebuah inovasi dikomunikasikan dalam berbagai saluran dalam jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_difusi_inovasi, dan lainnya yang telah diolah). dalam proses difusi ini yang paling penting adalah proses adaptasi inovasi oleh masyarakat itu sendiri. bagaimana masyarakat mulai mengenal, menggunakan inovasi tersebut dan mengembangkan jaringan sosial untuk menyebarkan inovasi tersebut. masyarakat dituntut untuk dapat terbiasa dan mengadaptasi inovasi ini yang tujuannya memang dianggap menguntungkan.

hal ini sedang dialami oleh berbagai ojek berbasis aplikasi itu. mereka gencar menyebarkan inovasi bukan hanya layanan ojek seperti ojek konvensional, melainkan merambah kebutuhan lain seperti layanan antar makanan, belanja bahkan perawatan rumah dan tubuh. memudahkan sekali untuk warga di kota-kota besar.

dari pandangan saya sebagai pengguna ojek on-line dan -mantan- mahasiswa yang super perhitungan. munculnya ojek on-line ini memudahkan dan jelas menguntungkan. biasanya saya harus membayar lebih daari 30ribu rupiah untuk perjalanan dari kampus IPB Dramaga menuju stasiun Bogor, setelah ada ojek on-line ini saya hanya bayar sekitar 15-20ribu untuk perjalanan yang sama. belum lagi anti nyasar karena ada GPS, dijemput di depan rumah tanpa harus datang ke pangkalan ojek. tinggal modal aplikasi di HP dan kuota internet, abang ojek siap jemput. belum lagi sambil naik ojek, abangnya cerita kalau sejak bergabung dengan ojek online ini penghasilannya lebih menentu, asal ia rajin. meskipun sekarang katanya sudah makin banyak tukang ojek online jadi mulai berkurang lagi pendapatannya. sangking beragamnya latar belakang tukang ojek online, saya pernah dapat ojek yang pengemudinya mahasiswa s2 di sebuah kampus ternama. sekarang tukang ojek nggak bisa dipandang sebelah mata.

memang dari awal sudah banyak kontroversi yang bermunculan berkat adanya inovasi ini. para ojek konvensional mulai merasa ranah usahanya terganggu. bukan cuma ojek, angkot juga mulai sepi. saya masih sering naik angkot, setiap naik angkot pasti abang angkot ‘ngedumel’ soal terlalu banyaknya helm-helm hijau narik penumpang dan bikin penumpang angkot sepi. miris sih, cuma ya gimana…..

seperti dua sisi mata uang, adanya ojek online ini pada akhirnya membuat pemerintah turut putar otak untuk cari solusinya. pemerintah sampai merevisi undang-undang untuk mentertibkan kisruh angkutan umum ini. ttapi belum cukup, setiap buka media sosial masih banyak kisah-kisah dari dunia ojek ini yang membuat pembaca geleng-geleng kepala. banyak juga pengemudi ojek online yang nelangsa karena ulah pengguna aplikasi nggak bertanggung jawab. tetap ada untung-ruginya.

Kini manusia apalagi anak muda didorong untuk dapat menggerakan industri kreatif, tapi ketika inovasinya bergesekan dengan yang masih konvensional, terpaksa harus mengalah dan kembali ke konvensional. lalu untuk apa inovasi? kenapa kita tidak terbuka saja pada inovasi?

saya pribadi yakin meskipun secara perlahan, pola pikir masyarakat kebanyakan akan berubah. namun memang tidak mudah sehingga rasa saling menghormati sesama manusia tetap harus dipupuk. supaya tidak ada lagi gesekkan antar kelompok. rezeki memang sudah urusan Tuhan, kita menjalani hidup saja dengan ikhlas dan damai supaya Tuhan makin sayang. saya juga berharap pemerintah dapat secara arif memberikan jalan keluar atas kericuhan yang terjadi. dan, terimakasih pada inovator-inovator yang telah berani dengan segala resikonya membuat sesuatu yang menjadi harapan bagi masyarakat untuk dapat hidup secara aman, nyaman dan bahagia. terimakasih untuk abang angkot dan ojek konvensional yang masih tetap giat mencari nafkah untuk keluarganya, saya tetap jadi pelanggan kok sesekali (asal jangan ngetem seabad aja, ya bang)

salam,

WM

 

Opini: Beragam yang (Dipaksa) Seragam

“ngapain sih panas-panas gini pake kerudung panjang gitu?”

“serem banget sih tatto-an. orang nggak bener nih”

“mending kalo mulus, pake baju pendek ketat udah kayak lemper. cewek nggak bener nih”

terus yang bener yang gimana? yang kayak kita??? kita udah bener nih? yakin?

sering nggak dalam situasi ini? “menangkap” perbedaan mencolok disekitar kita? gue sering. bingung gimana caranya untuk berhenti memperhatikan. tapi kayaknya ini adalah kebiasaan banyak orang yang sulit dihentikan. gue tau, nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. termasuk gue, menulis ini dengan sadar. sebagai tamparan untuk diri sendiri, dan menghentikan aksi stereotype ini.

for you guys yang belum tahu stereotype itu apa, klik ini. stereotype menurut pemahaman gue adalah pelabelan yang melekat pada seseorang dikarenakan ia merupakan bagian dari sebuah kelompok. contohnya, gue orang sunda. di luaran sana label yang melekat di diri gue adalah gue perempuan sunda yang matrealistis, gue anak IPB berarti gue dianggap jago bercocok tanam. silahkan membayangkan contoh lainnya sendiri. intinya stereotype itu menilai seseorang dengan pandangan kelompoknya. nggak dinilai secara individu gitu loh. lama-lama hal ini membuat gue mikir kalau ternyata kebanyakan dari kita memaksa seluruh manusia seragam di matanya. padahal kita sering menyuarakan keadilan untuk keberagaman. apalagi di Indonesia. iya sih kita menerima teman-teman kita dari ujung sabang sampai merauke, tapi kadang seolah menolak teman dekat kita yang penampilan dan cara hidupnya berbeda dengan kita. kadang kita merasa ‘nggak temen’ lagi ketika dia yang satu tongkrongan sama kita tiba-tiba jadi berbeda sama kita. hal ini cukup meresahkan. ya resah lah, gue pribadi jadi punya ‘standar’ untuk mengenal seseorang. jadi punya ukuran untuk tinggal dalam sebuah lingkungan. stereotype semacam membudaya. kayaknya nggak asik aja kalau liat yang beda di depan mata. padahal ini bahaya, generasi selanjutnya akan punya pandangan yang seragam karena takut berbeda dan dinilai salah. gue sedang membiasakan untuk terbiasa melihat yang berbeda, nggak usah ngusik dan menilai negatif.

kita jadi kayak mengamini bahwa yang paling benar adalah kita, padahal mah belum tentu. penampilan selalu jadi tolok ukur menilai seseorang. kalau kata pepatah nih ya, dalamnya lautan bisa terukur dalamnya hati mana kita tahu. kadang kita salah mempersepsikan perbedaan jadi sebuah kesalahan. padahal jelas banget nggak semua yang beda itu salah. sama halnya nggak semua perempuan sunda itu matre, nggak semua orang batak itu galak, nggak semua mas-mas bertato itu kuat, nggak semua yang pake rok pendek ketat itu perempuan nggak bener, nggak semua yang nggak berjilbab itu nggak beribadah, dan banyak lainnya.

kalau kita tetap bersikukuh untuk menghargai keberagaman, maka nggak ada salahnya untuk mulai mengentikan penyeragaman.

senang kalau ada yang mau berbagi pendapat.

semoga kali ini bermanfaat,

Wulan Mustika

 

Opini : yang Muda yang Berpolitik

Lan, lu nonton debat pilgub nggak?

jawabannya : nonton, selewat. review di youtube atau baca di portal berita on-line. bukan nggak ada waktu, sih. lebih ke berusaha mencerna dulu sebelum mengeluarkan tanggapan. dulu gue (boleh lah ya pake “gue” biar keliatan “muda”) pernah berpikir bahwa politik adalah ranah bermain bapak-bapak (yang bahkan dalam bayangan gue, perempuan nggak sepantasnya bahas politik) sehingga terasa aneh kalau anak muda bahasannya berat banget sampai bertanya “mau dibawa ke mana negara kita ini?”

semenjak makan -yang pada akhirnya gue yang termakan- bangku kuliah, gue lebih ‘open’ sama bahasan politik. setiap ada waktu senggang, gue bisa aja ngobrolin hal ‘berat’ sama temen. dari situ gue kayak ikut berpikir gimana jadinya negara kita kalau kita kaum muda nggak peduli sama negara. yaa minimal tahu lah yang mana yang baik untuk dipilih. ikut datang ke TPS, menggunakan hak suara, kemudian menerima siapa pun yang menang, berdamai dengan sesama dan menjadi warga negara yang baik. simpel kan?

FYI, tahun ini gue terancam nggak ikut pilkada karena KTP gue peralihan dari Kota Cimahi ke Jakarta. hingga blog ini diketik gue belum tahu nasib DPT gue ada di kota mana. gue ngikutin perkembangan pilgub DKI. dari mulai  berita paslon nomor 1 ogah datang ke acara TV, paslon 2 terancam kasus penistaan agama, paslon 3 dengan berulang mengatakan”ijinkan kami”-nya. gue sih nggak pengen bahas gue dukung yang mana, karena gue rasa hak pilih benar-benar milik pribadi.

gue pernah punya pengalaman unik soal berpolitik. jaman pilpres beberapa tahun lalu, gue sempat berdebat hebat dengan teman dekat. cuma gara-gara beda pandangan dan pilihan. literally, perbedaan membuat perpecahan kala itu. dari situ gue mulai belajar sebuah kesalahan fatal. kadang, kita mendukung yang satu dan selalu berusaha menjatuhkan yang lain. jadi masalah. bener-bener jadi masalah. padahal, seengaknya kita harus belajar toleransi dalam kebebasan berpendapat. lu diperbolehkan berpendapat dengan seluas-luasnya pengetahuan lu, tapi juga secara bersamaan menghargai pendapat orang lain. jangan asal percaya “katanya”, kudu punya fakta dari sumber terpercaya. senjata debat lu cuma fakta. kalau bukan fakta, jangan deh menyudutkan yang lain. salah-salah malah bahaya.

ya gitu, namanya juga anak muda. darahnya berapi-api, maunya menang sendiri, walau salah tak peduli (iya kan, Bang Oma?). gue sih belum tahu ada wadah untuk beropini politik nggak sih buat anak muda? (kalo ada beri info ya). karena wadah-wadah itulah yang dibutuhkan, biar anak muda nggak cuma ikut-ikutan menyebarkan kampanye penuh kebencian yang bertaburan di media sosial. biar kita ini ngerti, bagaimana seharusnya berpolitik. jangan cuma posting gambar hoax terus pe-de abis ngasih komentar pedas. mending daftar aja jadi admin lambeturah guys.

peka terhadap isu politik rasanya emang penting buat kaum muda. biar galaunya agak berkelas, bukan cuma karena mantan jalan sama gebetan barunya. dua puluh tahun ke depan masa depan negara ini ada di tangan kita. kalau sampai sekarang masih apatis, mau jadi apa nanti? kalau dua puluh tahun lagi kita nggak punya pemimpin kan sedih 😦

jadi, yang di daerahnya sedang pilkada. jangan lupa tanggal 15 Februari 2017 ke TPS untuk menggunakan hak suaramu ya. JANGAN SELFIE DI BILIK SUARA, SELFIE MAH DI RUMAH AJA.

selamat belajar politik dengan cerdas dan elegan.

salam semangat anak muda,

Wulan Mustika