Catatan Kecil untuk Mimpi yang Besar

Jakarta, 5 Maret 2017

Wulan Mustika, aku menulis ini untuk aku. pemilik jari yang sedang mengetik banyak kata. sebagai penyemangat ketika hari-hari (lagi-lagi) terasa  menyebalkan. mimpiku besar, tapi nyaliku selalu kecil.

aku ingat sewaktu aku menangis tersedu karena tidak mendapat tanda-tangan persetujuan untuk mengajukan beasiswa dari dosen pembimbing akademik. hari itu rasanya aku menghentikan semua usahaku. benar-benar berhenti. dan sejalan dari situ aku tahu, banyak teman-temanku mendapat kesempatan yang sama. aku menyesal. nyaliku terlalu kecil untuk mencoba.

aku ingat sewaktu rasanya ingin pulang saja, takut menghadapi banyak orang yang kemampuannya jauh lebih baik. aku tidak pulang, aku bertahan dan aku mampu menaklukan. sewaktu nyaliku mulai besar, kadang kenyataan tak selalu sejalan.

aku kadang lupa, pribadi-pribadi yang besar terbentuk dari keberanian. bukan keluhan. aku kadang lupa, tak ada hasil yang mengkhianati usaha. kalau usahaku nol, hasilnya akan selalu nol. aku kadang lupa, harap tidak akan sampai kepada Tuhan tanpa meniti tangga doa.

jadi Wulan, jika aku sekarang menyerah. maka aku takkan dapat apa-apa. maka mimpimu hanya tetap jadi mimpi.

jadilah sebaik-baiknya usaha yang selalu setia pada hasil. jadilah hamba yang selalu percaya pada Tuhan, jadilah manusia yang selalu bermanfaat bagi sesama.

kau kecil, tapi dapat mengubah dunia. setidaknya duniamu sendiri.

Lamboys

img_9800

halo semua,

kali ini saya ingin cerita tentang gerombolan mahasiswa SKPM IPB yang semasa kuliah kesana-kemari bersembilan, persis seperti recehan kembalian alfamart, sedikit banyak sama berisiknya. foto di atas sewaktu kami bersembilan liburan ke Jogja. Agustus 2014, di jaman Android baru hits, dan sosial media belum se-gila sekarang. modal tiket kereta Senen-Lempuyangan PP 100ribu, akhirnya kita jalan bersembilan!

namanya Lamboys, artinya Lama. karena kita itu super lama. mau kuliah, lama. mau makan, lama. mau apa-apa selalu lama.

kalau belum kenal, biar ku kenalkan. dari kiri ke kanan :

  1. Hamzah : saya nggak tahu kenapa laki-laki satu ini super menyenangkan. kalau makan paling lahap, senangnya jalan-jalan, suka sekali sesuatu yang hits, jago hitung-hitungan, sahabatan sama mbak-mbak warteg di samping kosnya dan anak kecil di tempat makan bateng. selalu ada bahan candaan segar. pernah ditegur sama saya oleh pak Arif Satria (Dekan Fema, Dosen MK. PKSDA) karena kita berdua cekikikan di kursi paling belakang, mencari “jodoh” di Google Maps :)))) zah, kucolok mata kau ya!
  2. Yunita : satu-satunya yang akselerasi, sekarang udah jadi banker. paling sering mengeluh nggak jelas, kalau ditanya kenapa jawabnya selalu nggak apa-apa. catatannya rapih, jam 3 sore harus udah di kos, pemberi tumpangan kamar inapan dan makan siang, jawara tebet yang paling nggak tahan tinggal di Bogor, sering grogian, sekarang gayanya udah hits abis.
  3. Annisa : saking mirip bocahnya, kita semua panggil “dedek”. simbol kelembutan anak perempuan, baik banget, nggak punya galon di kamar kos dan koleksi botol aqua 500ml, pernah masuk RS gara-gara minum tolak angin plus air dingin, jagoan DIY dan gemes-gemes stuff, sekarang jadi juragan ol-shop. bisa di-follow @tinkeubelle kak.
  4. Dinda : mantan ketua IAAS. pintar, cerdas, solutif, menyenangkan dan bijaksana. selalu memberi nilai positif untuk hal yang dipandang negatif. sering bilang “duh gue harus gimana, ya?” tapi setelah dikasih solusi hanya nyengir. satu kos sama saya dan dek nisa, kerjanya jajan mie dan ovaltine di warkopnya aris. jarang pulang malam (karena pulang pagi, nongkring di rektorat). masih belia namun dewasa.
  5. Gita : Hitsnya bogor, sering dibilang mirip nagita slavina. anak motor yang hapal semua tempat jajan enak. baik banget dan gampang diajak jalan. sering diem, kalo lagi sedih-sedihan bersembilan dia yang paling duluan nangis. Lampung-Bogor yang masih jomblo, semoga lekas menemukan tambatan hati.
  6. Wulan : saya. resmi direkrut lamboys setelah Lamboys tiba-tiba terbentuk.
  7. Citra : teteh kami bersama, lemah-lembut nan dewasa. baik hati dan mengayomi. punya bisnis ilustrasi, tulisan dan gambarnya bagus. memelihara beruang bersama ibunya. penyayang keluarga yang sekarang merantau ke Jakarta. senang bikin mie instan kuah susu, punya hidung lucu dan tawa yang khas.
  8. Nastuti : dipanggilnya Nanas. the prettiest woman yang hatinya juga cantik. cerdas dan lugas. kritis dan punya pandangan bagus. calon istrinya patra yang shalihah sekali. jago bahasa inggris. teman pertama saya di kampus, satu asrama, satu kelas TPB, nama kita dipanggil berurutan pas wisuda :))))
  9. Patra : udah kaya. bussiness man sukses. paling senang dengar cerita dari dia. kadang lawak, banyak menginspirasi. anak lampung yang kayaknya udah betah di bogor. nilai ujiannya selalu bagus, kalau mau makan bareng selalu atur strategi.

dari bersembilan, kalau ditanya pasti nggak ada yang bisa jelasin kapan bikin Lamboys. ya. jalan aja. mengalir seperti biasanya, sering sekelas dan jajan bareng. kalau yang satu nggak ada, pasti ada yang kurang lengkap rasanya. ternyata IPB, KPM, dan jajanan bara-lah yang berperan penting bagi kami. semoga sampai nanti, Lamboys tetap Lamboys 🙂

salam sayang,

Wulan Mustika

Komunikasi? Kok di Institut Pertanian ?

Halo, semua!

setelah lama terjebak dalam draft, akhirnya saya mempublikasikan tulisan ini. sebelumnya, ini hanya ‘pandangan’ saya sebagai lulusan dari departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB. pendapat orang akan berbeda-beda 🙂

IMG_0928.JPGSaya Wulan Mustika, (mantan) mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Institut Pertanian Bogor angkatan 49. angka 49 berarti IPB telah berusia 49 tahun ketika saya masuk tahun 2012. dulu saya masuk lewat ujian SNMPTN Tulis (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, sekarang dikenal dengan SBMPTN atau dulu SPMB). selalu saya tekankan, masuk universitas terbaik ke-3 se-Indonesia versi DIKTI (th. 2016) ini adalah KEAJAIBAN. bagi saya lulusan SMK teknik komputer dan jaringan yang tidak akrab dengan biologi, masuk PTN melalui SNMPTN Tulis IPA itu sangat sulit.

Kenapa Komunikasi? di IPB?

sejujurnya, KPM adalah pilihan ke-dua saya setelah prodi Ilmu Komputer. tapi, garis takdir membuat saya lulus di jurusan KPM. sederhana alasannya: saya ingin kuliah dekat dengan orang tua di Jakarta dan murah. biaya kuliah dan hidup di IPB memang terbilang murah, sehingga saya sangat senang bisa tinggal di Dramaga, Bogor. dengan harga kost sekitar 5jt-6jt pertahun sudah berisi kasur, lemari dan meja belajar yang cukup untuk saya tinggali. biaya makan terjangkau, karena IPB Dramaga jauh dari keramaian.

Belajar apa di sana?

ya banyak, ilmu komunikasi tentunya. tapi selain itu juga sosiologi pedesaan, ilmu kependudukan, psikologi sosial, lembaga dan kepemimpinan, politik, ekologi, serta pertanian. saya harus mengambil 5 mata kuliah tambahan (minor) dari jurusan lain, dan saya memilih minor agronomi dan hortikultura. berbeda dengan ilmu komunikasi murni, kami banyak belajar mengasah kepekaan terhadap kondisi sosial di pedesaan sehingga penelitian yang kami lakukan lebih banyak di daerah pedesaan, baik pegunungan maupun pesisir.

menyenangkan, sekaligus melelahkan. tiap akhir semester kami pasti melakukan kuliah di lapang (biasa KPM sebut turun lapang) ke desa-desa sekitar kampus. menginap beberapa hari dan melakukan observasi. bisa tentang konflik, kepemimpinan, ekonomi dan berbagai aspek sosial lainnya.

jika kamu masih sekolah, tolong lupakan bayangan kuliah seperti di FTV. saya pribadi kadang kewalahan dengan banyaknya tugas, paper, kuis, resume dan project kelompok. UTS dan UAS yang satu soal bisa menghabiskan tinta satu pulpen, atau materi pra responsi yang berpuluh-puluh lembar, kadang berbahasa inggris. menonton film di bioskop, kemudian dianalisis. sudahlah, menyenangkan jadi anak KPM. sungguh…

tidak jarang, saya melihat rekan-rekan sejurusan saya sudah bolak-balik luar negeri untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan ilmiah, mereka bukan hanya pintar, tapi luwes dalam kehidupan organisasi dan akademik. tidak jarang pula, jurusan kami yang sebagian besar perempuan cantik, dicibir oleh mahasiswa fakultas lain yang menganggap kami jago dandan tapi tak berotak atau sekedar gaya-gayaan setiap ke kampus. saya sih, senyum saja. mereka yang ambil mata kuliah kita banyak kok yang dapat nilai C. hehehe. bagi kalian yang masih berpikiran seperti itu, kita sudah punya porsi keilmuan masing-masing ya. saya juga kalau ambil mata kuliah departemenmu pasti nilainya jelek hehe

seperti mahasiswa komunikasi pada umumnya, kami suka sekali berdiskusi. contohnya saya dan teman-teman satu organisasi yang bisa menghabiskan banyak waktu untuk membahas banyak hal. dari mulai kebijakan kampus, pro dan kontra pemilihan presiden, karakter teman-teman yang lain, kesehatan, fenomena hits di kampus, musik, bahkan mengupas masalah-masalah pribadi. sekarang saya tahu, hal itu membuat kami melatih diri untuk lebih peduli terhadap kondisi sekitar. jadi sebenarnya kami sama seperti komunikasi lain, tapi tetap bersentuhan dengan dunia pertanian

saya yakin, di manapun kita belajar tanpa memandang jurusan apa, universitas mana, IPK berapa, dulu pernah berprestasi sebanyak apa, kita tetap menjadi ‘the agent of change’ untuk Indonesia. jadi, tetap semangat mengukir prestasi 🙂

 

salam,

Wulan Mustika

Apakah Kekuatan Sosial Bisa Tumbuh di Perkotaan?

Kota, membayangkannya saja sudah dapat tertebak hal identik tentangnya. Sebuah lingkungan besar dengan hiruk pikuk tak kunjung usai. Sepertinya anak kecil pun sudah dapat menggambarkan betapa sibuknya daerah perkotaan. Polusi dari kendaraan dan industri yang menjadi ciri khasnya, tak pernah sedetik pun lepas dari tubuh gempal kota. Ya, dalam benak saya Kota itu gempal. Kota itu besar. Tidak hanya luasnya, namun juga heterogenitas warganya. Bermacam-macam masyarakatnya yang memberikan banyak perbedaan dalam kehidupan kota.

Sedangkan desa, sering dikaitkan dengan keindahan dan kehidupan guyubnya. Asri dan nyaman, gotong royong yang menjadi ciri khasnya. Ketika warga kota bergumul dengan hiruk pikuknya. Warga desa menjalani kehidupannya dengan kelengangan. Dari segi waktu, pekerjaan, kehidupan sosial, keagamaan dan politik. Mereka nyaris lebih bahagia dibanding warga kota dengan berbagai kesibukannya.

Masyarakat kota atau juga sering disebut urban community kebanyakan berciri individualis atau hampir tidak bergantung pada orang lain. Maka dari itu tidak jarang dijumpai dalam keluarga pun terdapat paham yang berbeda akibat perbedaan kepentingan agama, politik, dan sebagainya. Dengan kehidupan keagamaan yang tidak sama dengan kehidupan pedesaan, terkadang warga perkotaan memiliki jalan pikiran yang lebih rasional. Selain itu, materi merupakan salah satu faktor yang wajib menjadi kepentingan utama dalam kehidupannya.

Namun, pembagian tugas dan ketelitian serta ketepatan waktu yang diusung masyarakat perkotaan menyebabkan masyarakat perkotaan lebih unggul dibandingkan masyarakat pedesaan. Keterbukaan masyarakat perkotaan kepada pengaruh dari luar pun mengakibatkan perubahan sosial lebih rentan terjadi d kota. Ciri-ciri ini lah yang menjadi pembeda kehidupan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Perbedaan yang jelas terlihat adalah masyarakat perkotaan tidak seperti masyarakat desa yang berhubungan kuat dengan alam. Mereka lebih mendahulukan kepentingan pribadinya, sedangkan masyarakat desa lebih kuat menyatu dengan alam. Selain itu komunitas pedesaan terhitung lebih kecil dari komunitas perkotaan. Kota lebih padat penduduknya, sedangkan desa tidak.

Toleransi sosial juga rendah, dikarenakan kesibukan masyarakat kota. Jarak sosial meskipun terasa dekat secara fisik (bisa saja kita melihat ribuan warga kota berdesakkan dalam commuter line), namun mereka tidak mengenal satu sama lain. Bahkan dengan tetangganya sendiri. Sungguh sangat berbeda dengan keadaan masyarakat desa yang kedekatan jarak sosial dan toleransinya tinggi. Yang bisa saja berkumpul dalam sebuah hajatan tetangganya untuk membantu. Sedangkan mereka tak harus selalu berdekatan seperti yang dialami warga kota.

Kehidupan modern telah merangkak masuk kedalam tubuh kota. Budaya Barat, hiruk-pikuk khas kota-kota besar di negara maju tela menggerus kehidupan tradisional yang masyarakat kenal. Maka, dapat terhitung jumlahnya warga yang  dapat memberikan toleransi tinggi terhadap masyarakat yang lain.

Membahas tentang kekuatan sosial, kekuatan sosial sendiri adalah akses kepada sumberdaya yang meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan kebutuhan atau hal-hal yang mempengaruhinya untuk menuju kepada tujuan yang aman, produktif dan memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam praktikum MK. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan pada tanggal 25 Februari 2015 lalu, cuplikan film mengenai kehidupan masyarakat petani di pedesaan. Kekuatan sosial nampak terlihat di sana. Karena mereka memiliki satu tujuan yang sama untuk memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan gabah kering. Mereka dapat membentuk sebuah koperasi yang bertujuan untuk menyimpan gabah yang berguna untuk kelangsungan hidup masyarakat ketika masa paceklik menyerang. Mereka dapat menggerakan roda ekonomi berlandaskan kekuatan sosial yang mereka miliki. Sehingga pada akhirnya mereka dapat hidup mandiri tanpa khawatir kekurangan pangan.

Kekuatan sosial dalam pembentukan organisasi di pedesaan ini akan sangat mudah terbentuk menurut saya. Mengapa? karena warga desa memiliki kelekatan dan toleransi sosial yang tinggi. Warga desa akan mudah membentuk kekuatan sosial dalam kelompok, karena mereka terbiasa membuat keputusan atau melakukan sebuah kegiatan dengan berkelompok. Mereka tidak memperdulikan apakah kegiatan bersama yang mereka lakukan akan memberikan efek terhadap kehidupannya atau bahkan tidak sama sekali.

Hal inilah yang tidak dapat dijumpai di kehidupan masyarakat kota. Seperti yang sudah dipaparkan, masyarakat kota yang sudah sangat matrealistis akan banyak mempertimbangkan berbagai kegiatan yang ia lakukan. Akankah berdampak pada kehidupannya atau tidak. Dapat disimpulkan bahwa menurut saya kekuatan sosial akan sukar terbentuk. Karena kehidupan individualis yang diusung masyarakat kota lebih menyulitkan kehidupan berkelompok seperti yang dilakukan masyarakat desa.

Hampir tidak ada kekuatan sosial yang kuat terbentuk di perkotaan jika kehidupan individualis melekat kuat di lingkungannya. Kekuatan sosial akan terbentuk jika masyarakat secara intensif membangun hubungan dan komunikasi diantara mereka. Masyarakat desa dapat dengan mudah membentuknya karena kebiasaan, sedangkan kebiasaan masyarakat kota sudah terbentuk berbeda dengan masyarakat desa. Kesulitan-kesulitan itu akan ditemui. kota, tempat luas nan besar itu akan tetap jadi kota dengan heterogenitas dan individualis yang menjadi cirinya.

Tulisan ini seolah menyudutkan kehidupan kota, tapi saya tak lantas mendukung desa dan meminggirkan kepentingan kehadiran perkotaan. Kota dan desa tetap hidup berdampingan. Tetap memutar rodanya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya. Seperti desa yang tidak akan lekang oleh waktu, kehidupan tradisionalnya merupakan ciri khas dari Indonesia yang mencerminkan budaya bangsanya.