Opini: Beragam yang (Dipaksa) Seragam

“ngapain sih panas-panas gini pake kerudung panjang gitu?”

“serem banget sih tatto-an. orang nggak bener nih”

“mending kalo mulus, pake baju pendek ketat udah kayak lemper. cewek nggak bener nih”

terus yang bener yang gimana? yang kayak kita??? kita udah bener nih? yakin?

sering nggak dalam situasi ini? “menangkap” perbedaan mencolok disekitar kita? gue sering. bingung gimana caranya untuk berhenti memperhatikan. tapi kayaknya ini adalah kebiasaan banyak orang yang sulit dihentikan. gue tau, nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. termasuk gue, menulis ini dengan sadar. sebagai tamparan untuk diri sendiri, dan menghentikan aksi stereotype ini.

for you guys yang belum tahu stereotype itu apa, klik ini. stereotype menurut pemahaman gue adalah pelabelan yang melekat pada seseorang dikarenakan ia merupakan bagian dari sebuah kelompok. contohnya, gue orang sunda. di luaran sana label yang melekat di diri gue adalah gue perempuan sunda yang matrealistis, gue anak IPB berarti gue dianggap jago bercocok tanam. silahkan membayangkan contoh lainnya sendiri. intinya stereotype itu menilai seseorang dengan pandangan kelompoknya. nggak dinilai secara individu gitu loh. lama-lama hal ini membuat gue mikir kalau ternyata kebanyakan dari kita memaksa seluruh manusia seragam di matanya. padahal kita sering menyuarakan keadilan untuk keberagaman. apalagi di Indonesia. iya sih kita menerima teman-teman kita dari ujung sabang sampai merauke, tapi kadang seolah menolak teman dekat kita yang penampilan dan cara hidupnya berbeda dengan kita. kadang kita merasa ‘nggak temen’ lagi ketika dia yang satu tongkrongan sama kita tiba-tiba jadi berbeda sama kita. hal ini cukup meresahkan. ya resah lah, gue pribadi jadi punya ‘standar’ untuk mengenal seseorang. jadi punya ukuran untuk tinggal dalam sebuah lingkungan. stereotype semacam membudaya. kayaknya nggak asik aja kalau liat yang beda di depan mata. padahal ini bahaya, generasi selanjutnya akan punya pandangan yang seragam karena takut berbeda dan dinilai salah. gue sedang membiasakan untuk terbiasa melihat yang berbeda, nggak usah ngusik dan menilai negatif.

kita jadi kayak mengamini bahwa yang paling benar adalah kita, padahal mah belum tentu. penampilan selalu jadi tolok ukur menilai seseorang. kalau kata pepatah nih ya, dalamnya lautan bisa terukur dalamnya hati mana kita tahu. kadang kita salah mempersepsikan perbedaan jadi sebuah kesalahan. padahal jelas banget nggak semua yang beda itu salah. sama halnya nggak semua perempuan sunda itu matre, nggak semua orang batak itu galak, nggak semua mas-mas bertato itu kuat, nggak semua yang pake rok pendek ketat itu perempuan nggak bener, nggak semua yang nggak berjilbab itu nggak beribadah, dan banyak lainnya.

kalau kita tetap bersikukuh untuk menghargai keberagaman, maka nggak ada salahnya untuk mulai mengentikan penyeragaman.

senang kalau ada yang mau berbagi pendapat.

semoga kali ini bermanfaat,

Wulan Mustika

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s