Opini : yang Muda yang Berpolitik

Lan, lu nonton debat pilgub nggak?

jawabannya : nonton, selewat. review di youtube atau baca di portal berita on-line. bukan nggak ada waktu, sih. lebih ke berusaha mencerna dulu sebelum mengeluarkan tanggapan. dulu gue (boleh lah ya pake “gue” biar keliatan “muda”) pernah berpikir bahwa politik adalah ranah bermain bapak-bapak (yang bahkan dalam bayangan gue, perempuan nggak sepantasnya bahas politik) sehingga terasa aneh kalau anak muda bahasannya berat banget sampai bertanya “mau dibawa ke mana negara kita ini?”

semenjak makan -yang pada akhirnya gue yang termakan- bangku kuliah, gue lebih ‘open’ sama bahasan politik. setiap ada waktu senggang, gue bisa aja ngobrolin hal ‘berat’ sama temen. dari situ gue kayak ikut berpikir gimana jadinya negara kita kalau kita kaum muda nggak peduli sama negara. yaa minimal tahu lah yang mana yang baik untuk dipilih. ikut datang ke TPS, menggunakan hak suara, kemudian menerima siapa pun yang menang, berdamai dengan sesama dan menjadi warga negara yang baik. simpel kan?

FYI, tahun ini gue terancam nggak ikut pilkada karena KTP gue peralihan dari Kota Cimahi ke Jakarta. hingga blog ini diketik gue belum tahu nasib DPT gue ada di kota mana. gue ngikutin perkembangan pilgub DKI. dari mulai  berita paslon nomor 1 ogah datang ke acara TV, paslon 2 terancam kasus penistaan agama, paslon 3 dengan berulang mengatakan”ijinkan kami”-nya. gue sih nggak pengen bahas gue dukung yang mana, karena gue rasa hak pilih benar-benar milik pribadi.

gue pernah punya pengalaman unik soal berpolitik. jaman pilpres beberapa tahun lalu, gue sempat berdebat hebat dengan teman dekat. cuma gara-gara beda pandangan dan pilihan. literally, perbedaan membuat perpecahan kala itu. dari situ gue mulai belajar sebuah kesalahan fatal. kadang, kita mendukung yang satu dan selalu berusaha menjatuhkan yang lain. jadi masalah. bener-bener jadi masalah. padahal, seengaknya kita harus belajar toleransi dalam kebebasan berpendapat. lu diperbolehkan berpendapat dengan seluas-luasnya pengetahuan lu, tapi juga secara bersamaan menghargai pendapat orang lain. jangan asal percaya “katanya”, kudu punya fakta dari sumber terpercaya. senjata debat lu cuma fakta. kalau bukan fakta, jangan deh menyudutkan yang lain. salah-salah malah bahaya.

ya gitu, namanya juga anak muda. darahnya berapi-api, maunya menang sendiri, walau salah tak peduli (iya kan, Bang Oma?). gue sih belum tahu ada wadah untuk beropini politik nggak sih buat anak muda? (kalo ada beri info ya). karena wadah-wadah itulah yang dibutuhkan, biar anak muda nggak cuma ikut-ikutan menyebarkan kampanye penuh kebencian yang bertaburan di media sosial. biar kita ini ngerti, bagaimana seharusnya berpolitik. jangan cuma posting gambar hoax terus pe-de abis ngasih komentar pedas. mending daftar aja jadi admin lambeturah guys.

peka terhadap isu politik rasanya emang penting buat kaum muda. biar galaunya agak berkelas, bukan cuma karena mantan jalan sama gebetan barunya. dua puluh tahun ke depan masa depan negara ini ada di tangan kita. kalau sampai sekarang masih apatis, mau jadi apa nanti? kalau dua puluh tahun lagi kita nggak punya pemimpin kan sedih 😦

jadi, yang di daerahnya sedang pilkada. jangan lupa tanggal 15 Februari 2017 ke TPS untuk menggunakan hak suaramu ya. JANGAN SELFIE DI BILIK SUARA, SELFIE MAH DI RUMAH AJA.

selamat belajar politik dengan cerdas dan elegan.

salam semangat anak muda,

Wulan Mustika

Advertisements

Menemani Dunia-nya Naba

img_1427

Namanya Naba Zilzilla Azzukhruf, usianya 4 tahun. kalau ditanya bagaimana rasanya menemukan teman main seperti dia, kujawab “luar-biasa”. dia lahir 16 Agustus 2012. aku mulai kuliah dan jarang di rumah.

Naba anak kuat, pintar, dan menyenangkan. Allah sayang sama Naba, hingga dapat sembuh dari atresia bilier pada usia ke-2 bulannya. sekarang Naba sehat, teman saya setiap hari. anak baik ini sejak bayi hingga sekarang setiap hari main ke rumah, yang persis sebelah rumahnya.

saya mengamati dia dari masih bayi hingga sekarang sudah mulai bisa baca. sejak Naba baru bisa tengkurap, menyanyi sampai menceritakan banyak hal. kami sekeluarga benar-benar menganggap Naba seperti bungsu-nya kami. apa-apa untuk Naba. semoga Ayah dan Bundanya tidak tiba-tiba memberikan surat adopsi hehehe.

pada dasarnya saya suka anak kecil, siapapun. anak tetangga, keponakan, sepupu, anak kecil di kendaraan umum, yang sedang digendong ibunya di mall, benar-benar siapapun. Naba salah satunya, saya rela pulang dari Bogor ke Jakarta setiap akhir minggu biar bisa main sama Naba. rasanya dunia Naba memang asyik.

kita bisa berbicara banyak, tentang apapun. menyanyikan banyak lagu sesuka kita. dia pintar, mudah sekali memahami maksud kami -orang dewasa yang mengajaknya bermain- suatu hari dia bilang pada saya ingin kuliah, di bogor, jurusan nyanyi. duh Ba, seandainya kamu tahu jadi dewasa itu menyebalkan. janganlah cepat-cepat ingin jadi besar.

Naba dan dunianya, membuat semua hal rumit di depan mata jadi sederhana. dunianya benar-benar mengasyikkan.

 

Parenting itu Penting

lah, masih single (bahkan jomblo) ngapain ngomongin parenting? mau belajar menyusui?

tunggu dulu, jangan dulu close-tab. mengutip dari monaratuliu.com Parenting itu adalah proses pengasuhan dan pendidikan anak mulai dari kelahirannya hingga menjapai kedewasaan personal. Jadi parenting dimulai sejak anak baru dilahirkan, dan selesai pada saat anak sudah memenuhi kriteria untuk disebut sebagai pribadi yang dewasa. Dewasa dalam fungsi parenting adalah dewasa secara mental atau psikologis.

intinya, kita ini para remaja-menuju-dewasa yang mungkin hampir selesai mendapat berbagai didikan atau bahkan baru saja selesai dari “sekolah-parenting” ibu dan bapak kita masing-masing. menurut saya kita perlu tahu dan mendalami ilmu parenting sejak awal dewasa.

tujuannya supaya kita siap. nggak terburu-terburu ingin menikah dan punya anak tapi begitu gendong bayi malah panik karena bayinya panas sehabis vaksin. atau nantinya malah menitipkan anak ke nenek dan kakeknya karena masih ingin mengejar karir. ya begitulah, selesaikan dahulu lalu majulah ke tahap berikutnya. selain siap untuk menghadapi your own parenting world, memahami “mengasuh anak” adalah kelas bersabar paling menyenangkan. latihannya mudah, ajukan saja diri untuk mengasuh anak kakakmu, saudaramu, sepupumu, keponakanmu atau pinjam anak tetangga. sudah siapkah kamu mendengar rengekannya? hehehe

selain kesiapan, memahami parenting adalah proses dimana kita belajar dari kehidupan masa kecil kita, menemukan kesalahan dan kebaikan yang diajarkan oleh orang tua kita. bagaimanapun, pola asuh dan kebiasaan setiap keluarga berbeda. maka kelak, ketika kita sudah dewasa dan menjadi orang tua, kita tidak kaget menghadapi berbagai masalah dalam mengasuh anak.

tengoklah kebiasaan-kebiasaan berbeda ibu-ibu sosial media dalam mengasuh anaknya. banyak yang bisa di contoh. buka saja akun instagram @retnohening Ibuknya Mayesa Hafsah Kirana yang tinggal di Muscat, Oman sana. atau yang sedang hits pasangan Gisella dan Gading yang mengajarkan Gempita berbagai hal, dan si kembar lima AIUEO. jangan cuma komentar “iiih gemes” “Kirana pintar banget sih, main yuk sama kakak” tapi mulailah amati bagaimana mereka menerapkan parenting. bagaimana membentuk kebiasaan dan ketangkasan anak.

jadi, yang udah siap nikah jangan cuma heboh bikin design undangan ya. banyak baca buku parenting, semoga Allah segerakan menitipkan anak shalih dan shalihahnya

 

semoga bermanfaat,

wulan