Lamboys

img_9800

halo semua,

kali ini saya ingin cerita tentang gerombolan mahasiswa SKPM IPB yang semasa kuliah kesana-kemari bersembilan, persis seperti recehan kembalian alfamart, sedikit banyak sama berisiknya. foto di atas sewaktu kami bersembilan liburan ke Jogja. Agustus 2014, di jaman Android baru hits, dan sosial media belum se-gila sekarang. modal tiket kereta Senen-Lempuyangan PP 100ribu, akhirnya kita jalan bersembilan!

namanya Lamboys, artinya Lama. karena kita itu super lama. mau kuliah, lama. mau makan, lama. mau apa-apa selalu lama.

kalau belum kenal, biar ku kenalkan. dari kiri ke kanan :

  1. Hamzah : saya nggak tahu kenapa laki-laki satu ini super menyenangkan. kalau makan paling lahap, senangnya jalan-jalan, suka sekali sesuatu yang hits, jago hitung-hitungan, sahabatan sama mbak-mbak warteg di samping kosnya dan anak kecil di tempat makan bateng. selalu ada bahan candaan segar. pernah ditegur sama saya oleh pak Arif Satria (Dekan Fema, Dosen MK. PKSDA) karena kita berdua cekikikan di kursi paling belakang, mencari “jodoh” di Google Maps :)))) zah, kucolok mata kau ya!
  2. Yunita : satu-satunya yang akselerasi, sekarang udah jadi banker. paling sering mengeluh nggak jelas, kalau ditanya kenapa jawabnya selalu nggak apa-apa. catatannya rapih, jam 3 sore harus udah di kos, pemberi tumpangan kamar inapan dan makan siang, jawara tebet yang paling nggak tahan tinggal di Bogor, sering grogian, sekarang gayanya udah hits abis.
  3. Annisa : saking mirip bocahnya, kita semua panggil “dedek”. simbol kelembutan anak perempuan, baik banget, nggak punya galon di kamar kos dan koleksi botol aqua 500ml, pernah masuk RS gara-gara minum tolak angin plus air dingin, jagoan DIY dan gemes-gemes stuff, sekarang jadi juragan ol-shop. bisa di-follow @tinkeubelle kak.
  4. Dinda : mantan ketua IAAS. pintar, cerdas, solutif, menyenangkan dan bijaksana. selalu memberi nilai positif untuk hal yang dipandang negatif. sering bilang “duh gue harus gimana, ya?” tapi setelah dikasih solusi hanya nyengir. satu kos sama saya dan dek nisa, kerjanya jajan mie dan ovaltine di warkopnya aris. jarang pulang malam (karena pulang pagi, nongkring di rektorat). masih belia namun dewasa.
  5. Gita : Hitsnya bogor, sering dibilang mirip nagita slavina. anak motor yang hapal semua tempat jajan enak. baik banget dan gampang diajak jalan. sering diem, kalo lagi sedih-sedihan bersembilan dia yang paling duluan nangis. Lampung-Bogor yang masih jomblo, semoga lekas menemukan tambatan hati.
  6. Wulan : saya. resmi direkrut lamboys setelah Lamboys tiba-tiba terbentuk.
  7. Citra : teteh kami bersama, lemah-lembut nan dewasa. baik hati dan mengayomi. punya bisnis ilustrasi, tulisan dan gambarnya bagus. memelihara beruang bersama ibunya. penyayang keluarga yang sekarang merantau ke Jakarta. senang bikin mie instan kuah susu, punya hidung lucu dan tawa yang khas.
  8. Nastuti : dipanggilnya Nanas. the prettiest woman yang hatinya juga cantik. cerdas dan lugas. kritis dan punya pandangan bagus. calon istrinya patra yang shalihah sekali. jago bahasa inggris. teman pertama saya di kampus, satu asrama, satu kelas TPB, nama kita dipanggil berurutan pas wisuda :))))
  9. Patra : udah kaya. bussiness man sukses. paling senang dengar cerita dari dia. kadang lawak, banyak menginspirasi. anak lampung yang kayaknya udah betah di bogor. nilai ujiannya selalu bagus, kalau mau makan bareng selalu atur strategi.

dari bersembilan, kalau ditanya pasti nggak ada yang bisa jelasin kapan bikin Lamboys. ya. jalan aja. mengalir seperti biasanya, sering sekelas dan jajan bareng. kalau yang satu nggak ada, pasti ada yang kurang lengkap rasanya. ternyata IPB, KPM, dan jajanan bara-lah yang berperan penting bagi kami. semoga sampai nanti, Lamboys tetap Lamboys 🙂

salam sayang,

Wulan Mustika

Piknik Ke Museum Nasional – Jakarta

halo, semua!

beberapa waktu lalu, saya menemani sepupu yang sedang liburan untuk berkeliling Jakarta. saya paling tidak suka main ke mall, karena isinya ya cuma itu-itu aja. kalau bukan belanja, makan, nonton, paling hanya keliling-keliling. akhirnya saya ajak dia ke Museum Nasional (terkenalnya Museum Gajah, karena ada patung gajah di depannya) yang tidak jauh dari rumah.IMG_1164.JPG

alamatnya di Jl. Medan Merdeka Barat no. 12, Gambir,  Jakarta Pusat. tidak jauh dari Monas. tapi hati-hati salah alamat, Museum Nasional berbeda dengan Galeri Nasional. kalau saya tidak salah, harga tiket masuknya Rp. 5000 untuk wisatawan lokal. kita juga dapat booklet gratis sebagai panduan untuk berkeliling museum.

ketika masuk, kita pertama-tama akan melewati bagian-bagian Arca dan peralatan batu dari zaman pra-sejarah. setelah itu ada beberapa kompleks yang bisa kita lihat seperti koleksi keramik, alat musik tradisional dari berbagai daerah, perabotan rumah tangga zaman dahulu, arsitektur dan benda-benda seni.

yang menarik, museum Nasional memiliki gedung baru dengan koleksi-koleksi unik. terdiri dari 3 lantai, mulai dari peradaban manusia hingga kehidupan sosialnya. kalau yang suka foto-foto, tempat ini juga cukup instagramable

saya paling tertarik di lantai paling atas, ada bagian yang sama sekali tidak boleh didokumentasikan. isinya emas-emas peninggalan zaman dahulu yang beratnya puluhan kilogram dengan kadar 24karat. saya kagum pada mahkota, giwang, kalung, dan perhiasan lain yang terawat dan tersimpan apik di galeri museum nasional.

untuk yang masih bingung mau menghabiskan weekend ke mana, museum ini cocok untuk jadi destinasi wisata edukasi buat keluarga. buka dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore, khusus hari Senin dan hari besar libur. yuk, piknik ke museum!

semoga bermanfaat,

Wulan Mustika

 

Komunikasi? Kok di Institut Pertanian ?

Halo, semua!

setelah lama terjebak dalam draft, akhirnya saya mempublikasikan tulisan ini. sebelumnya, ini hanya ‘pandangan’ saya sebagai lulusan dari departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB. pendapat orang akan berbeda-beda 🙂

IMG_0928.JPGSaya Wulan Mustika, (mantan) mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Institut Pertanian Bogor angkatan 49. angka 49 berarti IPB telah berusia 49 tahun ketika saya masuk tahun 2012. dulu saya masuk lewat ujian SNMPTN Tulis (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, sekarang dikenal dengan SBMPTN atau dulu SPMB). selalu saya tekankan, masuk universitas terbaik ke-3 se-Indonesia versi DIKTI (th. 2016) ini adalah KEAJAIBAN. bagi saya lulusan SMK teknik komputer dan jaringan yang tidak akrab dengan biologi, masuk PTN melalui SNMPTN Tulis IPA itu sangat sulit.

Kenapa Komunikasi? di IPB?

sejujurnya, KPM adalah pilihan ke-dua saya setelah prodi Ilmu Komputer. tapi, garis takdir membuat saya lulus di jurusan KPM. sederhana alasannya: saya ingin kuliah dekat dengan orang tua di Jakarta dan murah. biaya kuliah dan hidup di IPB memang terbilang murah, sehingga saya sangat senang bisa tinggal di Dramaga, Bogor. dengan harga kost sekitar 5jt-6jt pertahun sudah berisi kasur, lemari dan meja belajar yang cukup untuk saya tinggali. biaya makan terjangkau, karena IPB Dramaga jauh dari keramaian.

Belajar apa di sana?

ya banyak, ilmu komunikasi tentunya. tapi selain itu juga sosiologi pedesaan, ilmu kependudukan, psikologi sosial, lembaga dan kepemimpinan, politik, ekologi, serta pertanian. saya harus mengambil 5 mata kuliah tambahan (minor) dari jurusan lain, dan saya memilih minor agronomi dan hortikultura. berbeda dengan ilmu komunikasi murni, kami banyak belajar mengasah kepekaan terhadap kondisi sosial di pedesaan sehingga penelitian yang kami lakukan lebih banyak di daerah pedesaan, baik pegunungan maupun pesisir.

menyenangkan, sekaligus melelahkan. tiap akhir semester kami pasti melakukan kuliah di lapang (biasa KPM sebut turun lapang) ke desa-desa sekitar kampus. menginap beberapa hari dan melakukan observasi. bisa tentang konflik, kepemimpinan, ekonomi dan berbagai aspek sosial lainnya.

jika kamu masih sekolah, tolong lupakan bayangan kuliah seperti di FTV. saya pribadi kadang kewalahan dengan banyaknya tugas, paper, kuis, resume dan project kelompok. UTS dan UAS yang satu soal bisa menghabiskan tinta satu pulpen, atau materi pra responsi yang berpuluh-puluh lembar, kadang berbahasa inggris. menonton film di bioskop, kemudian dianalisis. sudahlah, menyenangkan jadi anak KPM. sungguh…

tidak jarang, saya melihat rekan-rekan sejurusan saya sudah bolak-balik luar negeri untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan ilmiah, mereka bukan hanya pintar, tapi luwes dalam kehidupan organisasi dan akademik. tidak jarang pula, jurusan kami yang sebagian besar perempuan cantik, dicibir oleh mahasiswa fakultas lain yang menganggap kami jago dandan tapi tak berotak atau sekedar gaya-gayaan setiap ke kampus. saya sih, senyum saja. mereka yang ambil mata kuliah kita banyak kok yang dapat nilai C. hehehe. bagi kalian yang masih berpikiran seperti itu, kita sudah punya porsi keilmuan masing-masing ya. saya juga kalau ambil mata kuliah departemenmu pasti nilainya jelek hehe

seperti mahasiswa komunikasi pada umumnya, kami suka sekali berdiskusi. contohnya saya dan teman-teman satu organisasi yang bisa menghabiskan banyak waktu untuk membahas banyak hal. dari mulai kebijakan kampus, pro dan kontra pemilihan presiden, karakter teman-teman yang lain, kesehatan, fenomena hits di kampus, musik, bahkan mengupas masalah-masalah pribadi. sekarang saya tahu, hal itu membuat kami melatih diri untuk lebih peduli terhadap kondisi sekitar. jadi sebenarnya kami sama seperti komunikasi lain, tapi tetap bersentuhan dengan dunia pertanian

saya yakin, di manapun kita belajar tanpa memandang jurusan apa, universitas mana, IPK berapa, dulu pernah berprestasi sebanyak apa, kita tetap menjadi ‘the agent of change’ untuk Indonesia. jadi, tetap semangat mengukir prestasi 🙂

 

salam,

Wulan Mustika