Apakah Kekuatan Sosial Bisa Tumbuh di Perkotaan?

Kota, membayangkannya saja sudah dapat tertebak hal identik tentangnya. Sebuah lingkungan besar dengan hiruk pikuk tak kunjung usai. Sepertinya anak kecil pun sudah dapat menggambarkan betapa sibuknya daerah perkotaan. Polusi dari kendaraan dan industri yang menjadi ciri khasnya, tak pernah sedetik pun lepas dari tubuh gempal kota. Ya, dalam benak saya Kota itu gempal. Kota itu besar. Tidak hanya luasnya, namun juga heterogenitas warganya. Bermacam-macam masyarakatnya yang memberikan banyak perbedaan dalam kehidupan kota.

Sedangkan desa, sering dikaitkan dengan keindahan dan kehidupan guyubnya. Asri dan nyaman, gotong royong yang menjadi ciri khasnya. Ketika warga kota bergumul dengan hiruk pikuknya. Warga desa menjalani kehidupannya dengan kelengangan. Dari segi waktu, pekerjaan, kehidupan sosial, keagamaan dan politik. Mereka nyaris lebih bahagia dibanding warga kota dengan berbagai kesibukannya.

Masyarakat kota atau juga sering disebut urban community kebanyakan berciri individualis atau hampir tidak bergantung pada orang lain. Maka dari itu tidak jarang dijumpai dalam keluarga pun terdapat paham yang berbeda akibat perbedaan kepentingan agama, politik, dan sebagainya. Dengan kehidupan keagamaan yang tidak sama dengan kehidupan pedesaan, terkadang warga perkotaan memiliki jalan pikiran yang lebih rasional. Selain itu, materi merupakan salah satu faktor yang wajib menjadi kepentingan utama dalam kehidupannya.

Namun, pembagian tugas dan ketelitian serta ketepatan waktu yang diusung masyarakat perkotaan menyebabkan masyarakat perkotaan lebih unggul dibandingkan masyarakat pedesaan. Keterbukaan masyarakat perkotaan kepada pengaruh dari luar pun mengakibatkan perubahan sosial lebih rentan terjadi d kota. Ciri-ciri ini lah yang menjadi pembeda kehidupan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Perbedaan yang jelas terlihat adalah masyarakat perkotaan tidak seperti masyarakat desa yang berhubungan kuat dengan alam. Mereka lebih mendahulukan kepentingan pribadinya, sedangkan masyarakat desa lebih kuat menyatu dengan alam. Selain itu komunitas pedesaan terhitung lebih kecil dari komunitas perkotaan. Kota lebih padat penduduknya, sedangkan desa tidak.

Toleransi sosial juga rendah, dikarenakan kesibukan masyarakat kota. Jarak sosial meskipun terasa dekat secara fisik (bisa saja kita melihat ribuan warga kota berdesakkan dalam commuter line), namun mereka tidak mengenal satu sama lain. Bahkan dengan tetangganya sendiri. Sungguh sangat berbeda dengan keadaan masyarakat desa yang kedekatan jarak sosial dan toleransinya tinggi. Yang bisa saja berkumpul dalam sebuah hajatan tetangganya untuk membantu. Sedangkan mereka tak harus selalu berdekatan seperti yang dialami warga kota.

Kehidupan modern telah merangkak masuk kedalam tubuh kota. Budaya Barat, hiruk-pikuk khas kota-kota besar di negara maju tela menggerus kehidupan tradisional yang masyarakat kenal. Maka, dapat terhitung jumlahnya warga yang  dapat memberikan toleransi tinggi terhadap masyarakat yang lain.

Membahas tentang kekuatan sosial, kekuatan sosial sendiri adalah akses kepada sumberdaya yang meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan kebutuhan atau hal-hal yang mempengaruhinya untuk menuju kepada tujuan yang aman, produktif dan memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam praktikum MK. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan pada tanggal 25 Februari 2015 lalu, cuplikan film mengenai kehidupan masyarakat petani di pedesaan. Kekuatan sosial nampak terlihat di sana. Karena mereka memiliki satu tujuan yang sama untuk memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan gabah kering. Mereka dapat membentuk sebuah koperasi yang bertujuan untuk menyimpan gabah yang berguna untuk kelangsungan hidup masyarakat ketika masa paceklik menyerang. Mereka dapat menggerakan roda ekonomi berlandaskan kekuatan sosial yang mereka miliki. Sehingga pada akhirnya mereka dapat hidup mandiri tanpa khawatir kekurangan pangan.

Kekuatan sosial dalam pembentukan organisasi di pedesaan ini akan sangat mudah terbentuk menurut saya. Mengapa? karena warga desa memiliki kelekatan dan toleransi sosial yang tinggi. Warga desa akan mudah membentuk kekuatan sosial dalam kelompok, karena mereka terbiasa membuat keputusan atau melakukan sebuah kegiatan dengan berkelompok. Mereka tidak memperdulikan apakah kegiatan bersama yang mereka lakukan akan memberikan efek terhadap kehidupannya atau bahkan tidak sama sekali.

Hal inilah yang tidak dapat dijumpai di kehidupan masyarakat kota. Seperti yang sudah dipaparkan, masyarakat kota yang sudah sangat matrealistis akan banyak mempertimbangkan berbagai kegiatan yang ia lakukan. Akankah berdampak pada kehidupannya atau tidak. Dapat disimpulkan bahwa menurut saya kekuatan sosial akan sukar terbentuk. Karena kehidupan individualis yang diusung masyarakat kota lebih menyulitkan kehidupan berkelompok seperti yang dilakukan masyarakat desa.

Hampir tidak ada kekuatan sosial yang kuat terbentuk di perkotaan jika kehidupan individualis melekat kuat di lingkungannya. Kekuatan sosial akan terbentuk jika masyarakat secara intensif membangun hubungan dan komunikasi diantara mereka. Masyarakat desa dapat dengan mudah membentuknya karena kebiasaan, sedangkan kebiasaan masyarakat kota sudah terbentuk berbeda dengan masyarakat desa. Kesulitan-kesulitan itu akan ditemui. kota, tempat luas nan besar itu akan tetap jadi kota dengan heterogenitas dan individualis yang menjadi cirinya.

Tulisan ini seolah menyudutkan kehidupan kota, tapi saya tak lantas mendukung desa dan meminggirkan kepentingan kehadiran perkotaan. Kota dan desa tetap hidup berdampingan. Tetap memutar rodanya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya. Seperti desa yang tidak akan lekang oleh waktu, kehidupan tradisionalnya merupakan ciri khas dari Indonesia yang mencerminkan budaya bangsanya.