Opini : Ojek Online, Dilema Difusi dan Adaptasi Inovasi. Butuh sih, tapi…..

gojek-vs-ojek

sebelum kita mulai, mari membaca :

http://news.liputan6.com/read/2893916/cegah-bentrok-ojek-online-meluas-2-kementerian-lakukan-hal-ini

dalam jangka kurang lebih satu bulan terakhir ini, ratusan (mungkin lebih) supir angkot  di Bandung melakukan aksi mogok sampai ada kericuhan dan perusakkan mobil yang diduga taksi online, di Tanggerang supir angkot ‘seruduk’ pengemudi ojek online, kemarin  di Bogor kota sejuta angkot mendadak nggak ada angkot karena semua supir angkot melakukan aksi yang sama. semua grup sosial media heboh, post foto-foto yang bisa jadi juga hoax. terlepas fotonya bener apa enggak, yang penting post dulu biar pada waspada.

memang beberapa tahun ke belakang, ojek online berbasis aplikasi ini mulai menjamur di Indonesia. perusahaan start-up mulai melihat peluang ini sebagai calon inovasi besar di Indonesia.  bisa klik artikel dari techinasia.com ini untuk mengetahui sejarah ojek online lebih lengkap. sebenarnya, GrabTaxi dan Uber sudah ada duluan di beberapa negara, Go-Jek sebagai pelopor ojek motor online langsung melejit sukses mengenalkan aplikasi ini di Indonesia. selain membantu pengguna ojek, anggota pengemudi Go-Jek juga dikabarkan lebih sejahtera. mungkin inilah salah satu contoh Difusi Inovasi yang pernah saya pelajari selama kuliah dulu.

Difusi inovasi merupakan teori yang dikenalkan oleh Everett Rogers pada tahun 1964 dalam bukunya yang berjudul Diffusions of Innovations. Rogers menjelaskan bahwa Difusi adalah sebuah proses dimana sebuah inovasi dikomunikasikan dalam berbagai saluran dalam jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem sosial (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_difusi_inovasi, dan lainnya yang telah diolah). dalam proses difusi ini yang paling penting adalah proses adaptasi inovasi oleh masyarakat itu sendiri. bagaimana masyarakat mulai mengenal, menggunakan inovasi tersebut dan mengembangkan jaringan sosial untuk menyebarkan inovasi tersebut. masyarakat dituntut untuk dapat terbiasa dan mengadaptasi inovasi ini yang tujuannya memang dianggap menguntungkan.

hal ini sedang dialami oleh berbagai ojek berbasis aplikasi itu. mereka gencar menyebarkan inovasi bukan hanya layanan ojek seperti ojek konvensional, melainkan merambah kebutuhan lain seperti layanan antar makanan, belanja bahkan perawatan rumah dan tubuh. memudahkan sekali untuk warga di kota-kota besar.

dari pandangan saya sebagai pengguna ojek on-line dan -mantan- mahasiswa yang super perhitungan. munculnya ojek on-line ini memudahkan dan jelas menguntungkan. biasanya saya harus membayar lebih daari 30ribu rupiah untuk perjalanan dari kampus IPB Dramaga menuju stasiun Bogor, setelah ada ojek on-line ini saya hanya bayar sekitar 15-20ribu untuk perjalanan yang sama. belum lagi anti nyasar karena ada GPS, dijemput di depan rumah tanpa harus datang ke pangkalan ojek. tinggal modal aplikasi di HP dan kuota internet, abang ojek siap jemput. belum lagi sambil naik ojek, abangnya cerita kalau sejak bergabung dengan ojek online ini penghasilannya lebih menentu, asal ia rajin. meskipun sekarang katanya sudah makin banyak tukang ojek online jadi mulai berkurang lagi pendapatannya. sangking beragamnya latar belakang tukang ojek online, saya pernah dapat ojek yang pengemudinya mahasiswa s2 di sebuah kampus ternama. sekarang tukang ojek nggak bisa dipandang sebelah mata.

memang dari awal sudah banyak kontroversi yang bermunculan berkat adanya inovasi ini. para ojek konvensional mulai merasa ranah usahanya terganggu. bukan cuma ojek, angkot juga mulai sepi. saya masih sering naik angkot, setiap naik angkot pasti abang angkot ‘ngedumel’ soal terlalu banyaknya helm-helm hijau narik penumpang dan bikin penumpang angkot sepi. miris sih, cuma ya gimana…..

seperti dua sisi mata uang, adanya ojek online ini pada akhirnya membuat pemerintah turut putar otak untuk cari solusinya. pemerintah sampai merevisi undang-undang untuk mentertibkan kisruh angkutan umum ini. ttapi belum cukup, setiap buka media sosial masih banyak kisah-kisah dari dunia ojek ini yang membuat pembaca geleng-geleng kepala. banyak juga pengemudi ojek online yang nelangsa karena ulah pengguna aplikasi nggak bertanggung jawab. tetap ada untung-ruginya.

Kini manusia apalagi anak muda didorong untuk dapat menggerakan industri kreatif, tapi ketika inovasinya bergesekan dengan yang masih konvensional, terpaksa harus mengalah dan kembali ke konvensional. lalu untuk apa inovasi? kenapa kita tidak terbuka saja pada inovasi?

saya pribadi yakin meskipun secara perlahan, pola pikir masyarakat kebanyakan akan berubah. namun memang tidak mudah sehingga rasa saling menghormati sesama manusia tetap harus dipupuk. supaya tidak ada lagi gesekkan antar kelompok. rezeki memang sudah urusan Tuhan, kita menjalani hidup saja dengan ikhlas dan damai supaya Tuhan makin sayang. saya juga berharap pemerintah dapat secara arif memberikan jalan keluar atas kericuhan yang terjadi. dan, terimakasih pada inovator-inovator yang telah berani dengan segala resikonya membuat sesuatu yang menjadi harapan bagi masyarakat untuk dapat hidup secara aman, nyaman dan bahagia. terimakasih untuk abang angkot dan ojek konvensional yang masih tetap giat mencari nafkah untuk keluarganya, saya tetap jadi pelanggan kok sesekali (asal jangan ngetem seabad aja, ya bang)

salam,

WM

 

Advertisements

Catatan Kecil untuk Mimpi yang Besar

Jakarta, 5 Maret 2017

Wulan Mustika, aku menulis ini untuk aku. pemilik jari yang sedang mengetik banyak kata. sebagai penyemangat ketika hari-hari (lagi-lagi) terasa  menyebalkan. mimpiku besar, tapi nyaliku selalu kecil.

aku ingat sewaktu aku menangis tersedu karena tidak mendapat tanda-tangan persetujuan untuk mengajukan beasiswa dari dosen pembimbing akademik. hari itu rasanya aku menghentikan semua usahaku. benar-benar berhenti. dan sejalan dari situ aku tahu, banyak teman-temanku mendapat kesempatan yang sama. aku menyesal. nyaliku terlalu kecil untuk mencoba.

aku ingat sewaktu rasanya ingin pulang saja, takut menghadapi banyak orang yang kemampuannya jauh lebih baik. aku tidak pulang, aku bertahan dan aku mampu menaklukan. sewaktu nyaliku mulai besar, kadang kenyataan tak selalu sejalan.

aku kadang lupa, pribadi-pribadi yang besar terbentuk dari keberanian. bukan keluhan. aku kadang lupa, tak ada hasil yang mengkhianati usaha. kalau usahaku nol, hasilnya akan selalu nol. aku kadang lupa, harap tidak akan sampai kepada Tuhan tanpa meniti tangga doa.

jadi Wulan, jika aku sekarang menyerah. maka aku takkan dapat apa-apa. maka mimpimu hanya tetap jadi mimpi.

jadilah sebaik-baiknya usaha yang selalu setia pada hasil. jadilah hamba yang selalu percaya pada Tuhan, jadilah manusia yang selalu bermanfaat bagi sesama.

kau kecil, tapi dapat mengubah dunia. setidaknya duniamu sendiri.

Opini: Beragam yang (Dipaksa) Seragam

“ngapain sih panas-panas gini pake kerudung panjang gitu?”

“serem banget sih tatto-an. orang nggak bener nih”

“mending kalo mulus, pake baju pendek ketat udah kayak lemper. cewek nggak bener nih”

terus yang bener yang gimana? yang kayak kita??? kita udah bener nih? yakin?

sering nggak dalam situasi ini? “menangkap” perbedaan mencolok disekitar kita? gue sering. bingung gimana caranya untuk berhenti memperhatikan. tapi kayaknya ini adalah kebiasaan banyak orang yang sulit dihentikan. gue tau, nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. termasuk gue, menulis ini dengan sadar. sebagai tamparan untuk diri sendiri, dan menghentikan aksi stereotype ini.

for you guys yang belum tahu stereotype itu apa, klik ini. stereotype menurut pemahaman gue adalah pelabelan yang melekat pada seseorang dikarenakan ia merupakan bagian dari sebuah kelompok. contohnya, gue orang sunda. di luaran sana label yang melekat di diri gue adalah gue perempuan sunda yang matrealistis, gue anak IPB berarti gue dianggap jago bercocok tanam. silahkan membayangkan contoh lainnya sendiri. intinya stereotype itu menilai seseorang dengan pandangan kelompoknya. nggak dinilai secara individu gitu loh. lama-lama hal ini membuat gue mikir kalau ternyata kebanyakan dari kita memaksa seluruh manusia seragam di matanya. padahal kita sering menyuarakan keadilan untuk keberagaman. apalagi di Indonesia. iya sih kita menerima teman-teman kita dari ujung sabang sampai merauke, tapi kadang seolah menolak teman dekat kita yang penampilan dan cara hidupnya berbeda dengan kita. kadang kita merasa ‘nggak temen’ lagi ketika dia yang satu tongkrongan sama kita tiba-tiba jadi berbeda sama kita. hal ini cukup meresahkan. ya resah lah, gue pribadi jadi punya ‘standar’ untuk mengenal seseorang. jadi punya ukuran untuk tinggal dalam sebuah lingkungan. stereotype semacam membudaya. kayaknya nggak asik aja kalau liat yang beda di depan mata. padahal ini bahaya, generasi selanjutnya akan punya pandangan yang seragam karena takut berbeda dan dinilai salah. gue sedang membiasakan untuk terbiasa melihat yang berbeda, nggak usah ngusik dan menilai negatif.

kita jadi kayak mengamini bahwa yang paling benar adalah kita, padahal mah belum tentu. penampilan selalu jadi tolok ukur menilai seseorang. kalau kata pepatah nih ya, dalamnya lautan bisa terukur dalamnya hati mana kita tahu. kadang kita salah mempersepsikan perbedaan jadi sebuah kesalahan. padahal jelas banget nggak semua yang beda itu salah. sama halnya nggak semua perempuan sunda itu matre, nggak semua orang batak itu galak, nggak semua mas-mas bertato itu kuat, nggak semua yang pake rok pendek ketat itu perempuan nggak bener, nggak semua yang nggak berjilbab itu nggak beribadah, dan banyak lainnya.

kalau kita tetap bersikukuh untuk menghargai keberagaman, maka nggak ada salahnya untuk mulai mengentikan penyeragaman.

senang kalau ada yang mau berbagi pendapat.

semoga kali ini bermanfaat,

Wulan Mustika

 

Opini : yang Muda yang Berpolitik

Lan, lu nonton debat pilgub nggak?

jawabannya : nonton, selewat. review di youtube atau baca di portal berita on-line. bukan nggak ada waktu, sih. lebih ke berusaha mencerna dulu sebelum mengeluarkan tanggapan. dulu gue (boleh lah ya pake “gue” biar keliatan “muda”) pernah berpikir bahwa politik adalah ranah bermain bapak-bapak (yang bahkan dalam bayangan gue, perempuan nggak sepantasnya bahas politik) sehingga terasa aneh kalau anak muda bahasannya berat banget sampai bertanya “mau dibawa ke mana negara kita ini?”

semenjak makan -yang pada akhirnya gue yang termakan- bangku kuliah, gue lebih ‘open’ sama bahasan politik. setiap ada waktu senggang, gue bisa aja ngobrolin hal ‘berat’ sama temen. dari situ gue kayak ikut berpikir gimana jadinya negara kita kalau kita kaum muda nggak peduli sama negara. yaa minimal tahu lah yang mana yang baik untuk dipilih. ikut datang ke TPS, menggunakan hak suara, kemudian menerima siapa pun yang menang, berdamai dengan sesama dan menjadi warga negara yang baik. simpel kan?

FYI, tahun ini gue terancam nggak ikut pilkada karena KTP gue peralihan dari Kota Cimahi ke Jakarta. hingga blog ini diketik gue belum tahu nasib DPT gue ada di kota mana. gue ngikutin perkembangan pilgub DKI. dari mulai  berita paslon nomor 1 ogah datang ke acara TV, paslon 2 terancam kasus penistaan agama, paslon 3 dengan berulang mengatakan”ijinkan kami”-nya. gue sih nggak pengen bahas gue dukung yang mana, karena gue rasa hak pilih benar-benar milik pribadi.

gue pernah punya pengalaman unik soal berpolitik. jaman pilpres beberapa tahun lalu, gue sempat berdebat hebat dengan teman dekat. cuma gara-gara beda pandangan dan pilihan. literally, perbedaan membuat perpecahan kala itu. dari situ gue mulai belajar sebuah kesalahan fatal. kadang, kita mendukung yang satu dan selalu berusaha menjatuhkan yang lain. jadi masalah. bener-bener jadi masalah. padahal, seengaknya kita harus belajar toleransi dalam kebebasan berpendapat. lu diperbolehkan berpendapat dengan seluas-luasnya pengetahuan lu, tapi juga secara bersamaan menghargai pendapat orang lain. jangan asal percaya “katanya”, kudu punya fakta dari sumber terpercaya. senjata debat lu cuma fakta. kalau bukan fakta, jangan deh menyudutkan yang lain. salah-salah malah bahaya.

ya gitu, namanya juga anak muda. darahnya berapi-api, maunya menang sendiri, walau salah tak peduli (iya kan, Bang Oma?). gue sih belum tahu ada wadah untuk beropini politik nggak sih buat anak muda? (kalo ada beri info ya). karena wadah-wadah itulah yang dibutuhkan, biar anak muda nggak cuma ikut-ikutan menyebarkan kampanye penuh kebencian yang bertaburan di media sosial. biar kita ini ngerti, bagaimana seharusnya berpolitik. jangan cuma posting gambar hoax terus pe-de abis ngasih komentar pedas. mending daftar aja jadi admin lambeturah guys.

peka terhadap isu politik rasanya emang penting buat kaum muda. biar galaunya agak berkelas, bukan cuma karena mantan jalan sama gebetan barunya. dua puluh tahun ke depan masa depan negara ini ada di tangan kita. kalau sampai sekarang masih apatis, mau jadi apa nanti? kalau dua puluh tahun lagi kita nggak punya pemimpin kan sedih 😦

jadi, yang di daerahnya sedang pilkada. jangan lupa tanggal 15 Februari 2017 ke TPS untuk menggunakan hak suaramu ya. JANGAN SELFIE DI BILIK SUARA, SELFIE MAH DI RUMAH AJA.

selamat belajar politik dengan cerdas dan elegan.

salam semangat anak muda,

Wulan Mustika

Menemani Dunia-nya Naba

img_1427

Namanya Naba Zilzilla Azzukhruf, usianya 4 tahun. kalau ditanya bagaimana rasanya menemukan teman main seperti dia, kujawab “luar-biasa”. dia lahir 16 Agustus 2012. aku mulai kuliah dan jarang di rumah.

Naba anak kuat, pintar, dan menyenangkan. Allah sayang sama Naba, hingga dapat sembuh dari atresia bilier pada usia ke-2 bulannya. sekarang Naba sehat, teman saya setiap hari. anak baik ini sejak bayi hingga sekarang setiap hari main ke rumah, yang persis sebelah rumahnya.

saya mengamati dia dari masih bayi hingga sekarang sudah mulai bisa baca. sejak Naba baru bisa tengkurap, menyanyi sampai menceritakan banyak hal. kami sekeluarga benar-benar menganggap Naba seperti bungsu-nya kami. apa-apa untuk Naba. semoga Ayah dan Bundanya tidak tiba-tiba memberikan surat adopsi hehehe.

pada dasarnya saya suka anak kecil, siapapun. anak tetangga, keponakan, sepupu, anak kecil di kendaraan umum, yang sedang digendong ibunya di mall, benar-benar siapapun. Naba salah satunya, saya rela pulang dari Bogor ke Jakarta setiap akhir minggu biar bisa main sama Naba. rasanya dunia Naba memang asyik.

kita bisa berbicara banyak, tentang apapun. menyanyikan banyak lagu sesuka kita. dia pintar, mudah sekali memahami maksud kami -orang dewasa yang mengajaknya bermain- suatu hari dia bilang pada saya ingin kuliah, di bogor, jurusan nyanyi. duh Ba, seandainya kamu tahu jadi dewasa itu menyebalkan. janganlah cepat-cepat ingin jadi besar.

Naba dan dunianya, membuat semua hal rumit di depan mata jadi sederhana. dunianya benar-benar mengasyikkan.

 

Parenting itu Penting

lah, masih single (bahkan jomblo) ngapain ngomongin parenting? mau belajar menyusui?

tunggu dulu, jangan dulu close-tab. mengutip dari monaratuliu.com Parenting itu adalah proses pengasuhan dan pendidikan anak mulai dari kelahirannya hingga menjapai kedewasaan personal. Jadi parenting dimulai sejak anak baru dilahirkan, dan selesai pada saat anak sudah memenuhi kriteria untuk disebut sebagai pribadi yang dewasa. Dewasa dalam fungsi parenting adalah dewasa secara mental atau psikologis.

intinya, kita ini para remaja-menuju-dewasa yang mungkin hampir selesai mendapat berbagai didikan atau bahkan baru saja selesai dari “sekolah-parenting” ibu dan bapak kita masing-masing. menurut saya kita perlu tahu dan mendalami ilmu parenting sejak awal dewasa.

tujuannya supaya kita siap. nggak terburu-terburu ingin menikah dan punya anak tapi begitu gendong bayi malah panik karena bayinya panas sehabis vaksin. atau nantinya malah menitipkan anak ke nenek dan kakeknya karena masih ingin mengejar karir. ya begitulah, selesaikan dahulu lalu majulah ke tahap berikutnya. selain siap untuk menghadapi your own parenting world, memahami “mengasuh anak” adalah kelas bersabar paling menyenangkan. latihannya mudah, ajukan saja diri untuk mengasuh anak kakakmu, saudaramu, sepupumu, keponakanmu atau pinjam anak tetangga. sudah siapkah kamu mendengar rengekannya? hehehe

selain kesiapan, memahami parenting adalah proses dimana kita belajar dari kehidupan masa kecil kita, menemukan kesalahan dan kebaikan yang diajarkan oleh orang tua kita. bagaimanapun, pola asuh dan kebiasaan setiap keluarga berbeda. maka kelak, ketika kita sudah dewasa dan menjadi orang tua, kita tidak kaget menghadapi berbagai masalah dalam mengasuh anak.

tengoklah kebiasaan-kebiasaan berbeda ibu-ibu sosial media dalam mengasuh anaknya. banyak yang bisa di contoh. buka saja akun instagram @retnohening Ibuknya Mayesa Hafsah Kirana yang tinggal di Muscat, Oman sana. atau yang sedang hits pasangan Gisella dan Gading yang mengajarkan Gempita berbagai hal, dan si kembar lima AIUEO. jangan cuma komentar “iiih gemes” “Kirana pintar banget sih, main yuk sama kakak” tapi mulailah amati bagaimana mereka menerapkan parenting. bagaimana membentuk kebiasaan dan ketangkasan anak.

jadi, yang udah siap nikah jangan cuma heboh bikin design undangan ya. banyak baca buku parenting, semoga Allah segerakan menitipkan anak shalih dan shalihahnya

 

semoga bermanfaat,

wulan

Lamboys

img_9800

halo semua,

kali ini saya ingin cerita tentang gerombolan mahasiswa SKPM IPB yang semasa kuliah kesana-kemari bersembilan, persis seperti recehan kembalian alfamart, sedikit banyak sama berisiknya. foto di atas sewaktu kami bersembilan liburan ke Jogja. Agustus 2014, di jaman Android baru hits, dan sosial media belum se-gila sekarang. modal tiket kereta Senen-Lempuyangan PP 100ribu, akhirnya kita jalan bersembilan!

namanya Lamboys, artinya Lama. karena kita itu super lama. mau kuliah, lama. mau makan, lama. mau apa-apa selalu lama.

kalau belum kenal, biar ku kenalkan. dari kiri ke kanan :

  1. Hamzah : saya nggak tahu kenapa laki-laki satu ini super menyenangkan. kalau makan paling lahap, senangnya jalan-jalan, suka sekali sesuatu yang hits, jago hitung-hitungan, sahabatan sama mbak-mbak warteg di samping kosnya dan anak kecil di tempat makan bateng. selalu ada bahan candaan segar. pernah ditegur sama saya oleh pak Arif Satria (Dekan Fema, Dosen MK. PKSDA) karena kita berdua cekikikan di kursi paling belakang, mencari “jodoh” di Google Maps :)))) zah, kucolok mata kau ya!
  2. Yunita : satu-satunya yang akselerasi, sekarang udah jadi banker. paling sering mengeluh nggak jelas, kalau ditanya kenapa jawabnya selalu nggak apa-apa. catatannya rapih, jam 3 sore harus udah di kos, pemberi tumpangan kamar inapan dan makan siang, jawara tebet yang paling nggak tahan tinggal di Bogor, sering grogian, sekarang gayanya udah hits abis.
  3. Annisa : saking mirip bocahnya, kita semua panggil “dedek”. simbol kelembutan anak perempuan, baik banget, nggak punya galon di kamar kos dan koleksi botol aqua 500ml, pernah masuk RS gara-gara minum tolak angin plus air dingin, jagoan DIY dan gemes-gemes stuff, sekarang jadi juragan ol-shop. bisa di-follow @tinkeubelle kak.
  4. Dinda : mantan ketua IAAS. pintar, cerdas, solutif, menyenangkan dan bijaksana. selalu memberi nilai positif untuk hal yang dipandang negatif. sering bilang “duh gue harus gimana, ya?” tapi setelah dikasih solusi hanya nyengir. satu kos sama saya dan dek nisa, kerjanya jajan mie dan ovaltine di warkopnya aris. jarang pulang malam (karena pulang pagi, nongkring di rektorat). masih belia namun dewasa.
  5. Gita : Hitsnya bogor, sering dibilang mirip nagita slavina. anak motor yang hapal semua tempat jajan enak. baik banget dan gampang diajak jalan. sering diem, kalo lagi sedih-sedihan bersembilan dia yang paling duluan nangis. Lampung-Bogor yang masih jomblo, semoga lekas menemukan tambatan hati.
  6. Wulan : saya. resmi direkrut lamboys setelah Lamboys tiba-tiba terbentuk.
  7. Citra : teteh kami bersama, lemah-lembut nan dewasa. baik hati dan mengayomi. punya bisnis ilustrasi, tulisan dan gambarnya bagus. memelihara beruang bersama ibunya. penyayang keluarga yang sekarang merantau ke Jakarta. senang bikin mie instan kuah susu, punya hidung lucu dan tawa yang khas.
  8. Nastuti : dipanggilnya Nanas. the prettiest woman yang hatinya juga cantik. cerdas dan lugas. kritis dan punya pandangan bagus. calon istrinya patra yang shalihah sekali. jago bahasa inggris. teman pertama saya di kampus, satu asrama, satu kelas TPB, nama kita dipanggil berurutan pas wisuda :))))
  9. Patra : udah kaya. bussiness man sukses. paling senang dengar cerita dari dia. kadang lawak, banyak menginspirasi. anak lampung yang kayaknya udah betah di bogor. nilai ujiannya selalu bagus, kalau mau makan bareng selalu atur strategi.

dari bersembilan, kalau ditanya pasti nggak ada yang bisa jelasin kapan bikin Lamboys. ya. jalan aja. mengalir seperti biasanya, sering sekelas dan jajan bareng. kalau yang satu nggak ada, pasti ada yang kurang lengkap rasanya. ternyata IPB, KPM, dan jajanan bara-lah yang berperan penting bagi kami. semoga sampai nanti, Lamboys tetap Lamboys 🙂

salam sayang,

Wulan Mustika

Piknik Ke Museum Nasional – Jakarta

halo, semua!

beberapa waktu lalu, saya menemani sepupu yang sedang liburan untuk berkeliling Jakarta. saya paling tidak suka main ke mall, karena isinya ya cuma itu-itu aja. kalau bukan belanja, makan, nonton, paling hanya keliling-keliling. akhirnya saya ajak dia ke Museum Nasional (terkenalnya Museum Gajah, karena ada patung gajah di depannya) yang tidak jauh dari rumah.IMG_1164.JPG

alamatnya di Jl. Medan Merdeka Barat no. 12, Gambir,  Jakarta Pusat. tidak jauh dari Monas. tapi hati-hati salah alamat, Museum Nasional berbeda dengan Galeri Nasional. kalau saya tidak salah, harga tiket masuknya Rp. 5000 untuk wisatawan lokal. kita juga dapat booklet gratis sebagai panduan untuk berkeliling museum.

ketika masuk, kita pertama-tama akan melewati bagian-bagian Arca dan peralatan batu dari zaman pra-sejarah. setelah itu ada beberapa kompleks yang bisa kita lihat seperti koleksi keramik, alat musik tradisional dari berbagai daerah, perabotan rumah tangga zaman dahulu, arsitektur dan benda-benda seni.

yang menarik, museum Nasional memiliki gedung baru dengan koleksi-koleksi unik. terdiri dari 3 lantai, mulai dari peradaban manusia hingga kehidupan sosialnya. kalau yang suka foto-fototempat ini juga cukup instagramable

saya paling tertarik di lantai paling atas, ada bagian yang sama sekali tidak boleh didokumentasikan. isinya emas-emas peninggalan zaman dahulu yang beratnya puluhan kilogram dengan kadar 24karat. saya kagum pada mahkota, giwang, kalung, dan perhiasan lain yang terawat dan tersimpan apik di galeri museum nasional.

untuk yang masih bingung mau menghabiskan weekend ke mana, museum ini cocok untuk jadi destinasi wisata edukasi buat keluarga. buka dari jam 9 pagi hingga jam 4 sore, khusus hari Senin dan hari besar libur. yuk, piknik ke museum!

semoga bermanfaat,

Wulan Mustika

 

Komunikasi? Kok di Institut Pertanian ?

Halo, semua!

setelah lama terjebak dalam draft, akhirnya saya mempublikasikan tulisan ini. sebelumnya, ini hanya ‘pandangan’ saya sebagai lulusan dari departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB. pendapat orang akan berbeda-beda 🙂

IMG_0928.JPGSaya Wulan Mustika, (mantan) mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM) Institut Pertanian Bogor angkatan 49. angka 49 berarti IPB telah berusia 49 tahun ketika saya masuk tahun 2012. dulu saya masuk lewat ujian SNMPTN Tulis (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri, sekarang dikenal dengan SBMPTN atau dulu SPMB). selalu saya tekankan, masuk universitas terbaik ke-3 se-Indonesia versi DIKTI (th. 2016) ini adalah KEAJAIBAN. bagi saya lulusan SMK teknik komputer dan jaringan yang tidak akrab dengan biologi, masuk PTN melalui SNMPTN Tulis IPA itu sangat sulit.

Kenapa Komunikasi? di IPB?

sejujurnya, KPM adalah pilihan ke-dua saya setelah prodi Ilmu Komputer. tapi, garis takdir membuat saya lulus di jurusan KPM. sederhana alasannya: saya ingin kuliah dekat dengan orang tua di Jakarta dan murah. biaya kuliah dan hidup di IPB memang terbilang murah, sehingga saya sangat senang bisa tinggal di Dramaga, Bogor. dengan harga kost sekitar 5jt-6jt pertahun sudah berisi kasur, lemari dan meja belajar yang cukup untuk saya tinggali. biaya makan terjangkau, karena IPB Dramaga jauh dari keramaian.

Belajar apa di sana?

ya banyak, ilmu komunikasi tentunya. tapi selain itu juga sosiologi pedesaan, ilmu kependudukan, psikologi sosial, lembaga dan kepemimpinan, politik, ekologi, serta pertanian. saya harus mengambil 5 mata kuliah tambahan (minor) dari jurusan lain, dan saya memilih minor agronomi dan hortikultura. berbeda dengan ilmu komunikasi murni, kami banyak belajar mengasah kepekaan terhadap kondisi sosial di pedesaan sehingga penelitian yang kami lakukan lebih banyak di daerah pedesaan, baik pegunungan maupun pesisir.

menyenangkan, sekaligus melelahkan. tiap akhir semester kami pasti melakukan kuliah di lapang (biasa KPM sebut turun lapang) ke desa-desa sekitar kampus. menginap beberapa hari dan melakukan observasi. bisa tentang konflik, kepemimpinan, ekonomi dan berbagai aspek sosial lainnya.

jika kamu masih sekolah, tolong lupakan bayangan kuliah seperti di FTV. saya pribadi kadang kewalahan dengan banyaknya tugas, paper, kuis, resume dan project kelompok. UTS dan UAS yang satu soal bisa menghabiskan tinta satu pulpen, atau materi pra responsi yang berpuluh-puluh lembar, kadang berbahasa inggris. menonton film di bioskop, kemudian dianalisis. sudahlah, menyenangkan jadi anak KPM. sungguh…

tidak jarang, saya melihat rekan-rekan sejurusan saya sudah bolak-balik luar negeri untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan ilmiah, mereka bukan hanya pintar, tapi luwes dalam kehidupan organisasi dan akademik. tidak jarang pula, jurusan kami yang sebagian besar perempuan cantik, dicibir oleh mahasiswa fakultas lain yang menganggap kami jago dandan tapi tak berotak atau sekedar gaya-gayaan setiap ke kampus. saya sih, senyum saja. mereka yang ambil mata kuliah kita banyak kok yang dapat nilai C. hehehe. bagi kalian yang masih berpikiran seperti itu, kita sudah punya porsi keilmuan masing-masing ya. saya juga kalau ambil mata kuliah departemenmu pasti nilainya jelek hehe

seperti mahasiswa komunikasi pada umumnya, kami suka sekali berdiskusi. contohnya saya dan teman-teman satu organisasi yang bisa menghabiskan banyak waktu untuk membahas banyak hal. dari mulai kebijakan kampus, pro dan kontra pemilihan presiden, karakter teman-teman yang lain, kesehatan, fenomena hits di kampus, musik, bahkan mengupas masalah-masalah pribadi. sekarang saya tahu, hal itu membuat kami melatih diri untuk lebih peduli terhadap kondisi sekitar. jadi sebenarnya kami sama seperti komunikasi lain, tapi tetap bersentuhan dengan dunia pertanian

saya yakin, di manapun kita belajar tanpa memandang jurusan apa, universitas mana, IPK berapa, dulu pernah berprestasi sebanyak apa, kita tetap menjadi ‘the agent of change’ untuk Indonesia. jadi, tetap semangat mengukir prestasi 🙂

 

salam,

Wulan Mustika

Apakah Kekuatan Sosial Bisa Tumbuh di Perkotaan?

Kota, membayangkannya saja sudah dapat tertebak hal identik tentangnya. Sebuah lingkungan besar dengan hiruk pikuk tak kunjung usai. Sepertinya anak kecil pun sudah dapat menggambarkan betapa sibuknya daerah perkotaan. Polusi dari kendaraan dan industri yang menjadi ciri khasnya, tak pernah sedetik pun lepas dari tubuh gempal kota. Ya, dalam benak saya Kota itu gempal. Kota itu besar. Tidak hanya luasnya, namun juga heterogenitas warganya. Bermacam-macam masyarakatnya yang memberikan banyak perbedaan dalam kehidupan kota.

Sedangkan desa, sering dikaitkan dengan keindahan dan kehidupan guyubnya. Asri dan nyaman, gotong royong yang menjadi ciri khasnya. Ketika warga kota bergumul dengan hiruk pikuknya. Warga desa menjalani kehidupannya dengan kelengangan. Dari segi waktu, pekerjaan, kehidupan sosial, keagamaan dan politik. Mereka nyaris lebih bahagia dibanding warga kota dengan berbagai kesibukannya.

Masyarakat kota atau juga sering disebut urban community kebanyakan berciri individualis atau hampir tidak bergantung pada orang lain. Maka dari itu tidak jarang dijumpai dalam keluarga pun terdapat paham yang berbeda akibat perbedaan kepentingan agama, politik, dan sebagainya. Dengan kehidupan keagamaan yang tidak sama dengan kehidupan pedesaan, terkadang warga perkotaan memiliki jalan pikiran yang lebih rasional. Selain itu, materi merupakan salah satu faktor yang wajib menjadi kepentingan utama dalam kehidupannya.

Namun, pembagian tugas dan ketelitian serta ketepatan waktu yang diusung masyarakat perkotaan menyebabkan masyarakat perkotaan lebih unggul dibandingkan masyarakat pedesaan. Keterbukaan masyarakat perkotaan kepada pengaruh dari luar pun mengakibatkan perubahan sosial lebih rentan terjadi d kota. Ciri-ciri ini lah yang menjadi pembeda kehidupan masyarakat perkotaan dan pedesaan. Perbedaan yang jelas terlihat adalah masyarakat perkotaan tidak seperti masyarakat desa yang berhubungan kuat dengan alam. Mereka lebih mendahulukan kepentingan pribadinya, sedangkan masyarakat desa lebih kuat menyatu dengan alam. Selain itu komunitas pedesaan terhitung lebih kecil dari komunitas perkotaan. Kota lebih padat penduduknya, sedangkan desa tidak.

Toleransi sosial juga rendah, dikarenakan kesibukan masyarakat kota. Jarak sosial meskipun terasa dekat secara fisik (bisa saja kita melihat ribuan warga kota berdesakkan dalam commuter line), namun mereka tidak mengenal satu sama lain. Bahkan dengan tetangganya sendiri. Sungguh sangat berbeda dengan keadaan masyarakat desa yang kedekatan jarak sosial dan toleransinya tinggi. Yang bisa saja berkumpul dalam sebuah hajatan tetangganya untuk membantu. Sedangkan mereka tak harus selalu berdekatan seperti yang dialami warga kota.

Kehidupan modern telah merangkak masuk kedalam tubuh kota. Budaya Barat, hiruk-pikuk khas kota-kota besar di negara maju tela menggerus kehidupan tradisional yang masyarakat kenal. Maka, dapat terhitung jumlahnya warga yang  dapat memberikan toleransi tinggi terhadap masyarakat yang lain.

Membahas tentang kekuatan sosial, kekuatan sosial sendiri adalah akses kepada sumberdaya yang meningkatkan kemungkinan untuk mendapatkan kebutuhan atau hal-hal yang mempengaruhinya untuk menuju kepada tujuan yang aman, produktif dan memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam praktikum MK. Kelembagaan, Organisasi, dan Kepemimpinan pada tanggal 25 Februari 2015 lalu, cuplikan film mengenai kehidupan masyarakat petani di pedesaan. Kekuatan sosial nampak terlihat di sana. Karena mereka memiliki satu tujuan yang sama untuk memenuhi kebutuhannya, seperti kebutuhan gabah kering. Mereka dapat membentuk sebuah koperasi yang bertujuan untuk menyimpan gabah yang berguna untuk kelangsungan hidup masyarakat ketika masa paceklik menyerang. Mereka dapat menggerakan roda ekonomi berlandaskan kekuatan sosial yang mereka miliki. Sehingga pada akhirnya mereka dapat hidup mandiri tanpa khawatir kekurangan pangan.

Kekuatan sosial dalam pembentukan organisasi di pedesaan ini akan sangat mudah terbentuk menurut saya. Mengapa? karena warga desa memiliki kelekatan dan toleransi sosial yang tinggi. Warga desa akan mudah membentuk kekuatan sosial dalam kelompok, karena mereka terbiasa membuat keputusan atau melakukan sebuah kegiatan dengan berkelompok. Mereka tidak memperdulikan apakah kegiatan bersama yang mereka lakukan akan memberikan efek terhadap kehidupannya atau bahkan tidak sama sekali.

Hal inilah yang tidak dapat dijumpai di kehidupan masyarakat kota. Seperti yang sudah dipaparkan, masyarakat kota yang sudah sangat matrealistis akan banyak mempertimbangkan berbagai kegiatan yang ia lakukan. Akankah berdampak pada kehidupannya atau tidak. Dapat disimpulkan bahwa menurut saya kekuatan sosial akan sukar terbentuk. Karena kehidupan individualis yang diusung masyarakat kota lebih menyulitkan kehidupan berkelompok seperti yang dilakukan masyarakat desa.

Hampir tidak ada kekuatan sosial yang kuat terbentuk di perkotaan jika kehidupan individualis melekat kuat di lingkungannya. Kekuatan sosial akan terbentuk jika masyarakat secara intensif membangun hubungan dan komunikasi diantara mereka. Masyarakat desa dapat dengan mudah membentuknya karena kebiasaan, sedangkan kebiasaan masyarakat kota sudah terbentuk berbeda dengan masyarakat desa. Kesulitan-kesulitan itu akan ditemui. kota, tempat luas nan besar itu akan tetap jadi kota dengan heterogenitas dan individualis yang menjadi cirinya.

Tulisan ini seolah menyudutkan kehidupan kota, tapi saya tak lantas mendukung desa dan meminggirkan kepentingan kehadiran perkotaan. Kota dan desa tetap hidup berdampingan. Tetap memutar rodanya sesuai dengan kepentingan dan kebutuhannya. Seperti desa yang tidak akan lekang oleh waktu, kehidupan tradisionalnya merupakan ciri khas dari Indonesia yang mencerminkan budaya bangsanya.